11 Tahun Islam Makhachev di UFC: Dari Kekalahan KO hingga Jadi Raja Dua Divisi
Debut Islam terjadi di UFC 187 pada Mei 2015 saat menghadapi Leo Kuntz. Kala itu, namanya belum sebesar sekarang. Banyak penggemar MMA global bahkan belum benar-benar mengenalnya. Namun Makhachev langsung menunjukkan ciri khas yang kelak menjadi identitas utamanya: grappling disiplin, tekanan tanpa henti, dan kontrol pertarungan yang sulit dilepaskan.
Baca Juga:
Menghadapi Kuntz, Islam tampil tenang dan efisien. Setelah mengendalikan jalannya laga, ia menutup pertarungan lewat rear-naked choke pada ronde kedua. Debut sukses. Kemenangan submission. Awal yang menjanjikan. Namun kisah besar Islam ternyata tidak dibangun lewat jalan yang mulus.
Kekalahan Perdana yang Mengubah Segalanya
Empat bulan setelah debutnya, Makhachev mengalami malam paling pahit dalam karier profesionalnya. Pada UFC 192, Oktober 2015, Islam menghadapi petarung Brasil, Adriano Martins. Datang sebagai prospek tak terkalahkan, Makhachev justru dibuat terkejut. Sebuah pukulan keras dari Martins menghentikannya di ronde pertama. Knockout.
Kekalahan itu menjadi noda pertama dalam karier Islam, dan hingga hari ini masih menjadi satu-satunya kekalahan profesional yang pernah ia alami. Banyak petarung kesulitan bangkit setelah kalah secara brutal di awal karier. Islam memilih menjadikan momen itu sebagai titik balik. Alih-alih runtuh, ia berubah menjadi versi yang jauh lebih komplet dan berbahaya.
Keluar dari Bayang-bayang Khabib
Setelah kekalahan dari Martins, Makhachev mulai membangun jalannya sendiri. Awalnya ia kerap disebut sebagai murid, partner latihan, atau penerus Khabib Nurmagomedov. Namun perlahan, Islam membuktikan bahwa dirinya memiliki identitas berbeda. Rentetan kemenangan mulai terbentuk. Arman Tsarukyan dan Chris Wade dikalahkan. Nik Lentz dilewati. Gleison Tibau tumbang. Dan Hooker diselesaikan. Bobby Green dihentikan cepat. Dustin Poirier pun akhirnya masuk daftar korban.
Di periode ini, perkembangan Islam terlihat jelas. Ia tidak lagi hanya mengandalkan gulat elite khas Dagestan. Kemampuan striking-nya semakin matang, pertahanan semakin rapat, sementara kontrol tempo pertarungannya berkembang menjadi salah satu yang terbaik di UFC.
Charles Oliveira Datang sebagai Ancaman, Pulang Kehilangan Takhta
Puncak perubahan status Islam datang di UFC 280 pada Oktober 2022. Di laga itu, ia menghadapi Charles Oliveira, mantan juara lightweight dengan reputasi submission mematikan dan salah satu momentum kemenangan terbaik di UFC saat itu.
Banyak pengamat menilai Oliveira terlalu berbahaya. Tak sedikit pula yang menunggu Islam gagal di panggung terbesar kariernya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Makhachev tampil dominan. Ia menekan Oliveira, mengontrol pertarungan, lalu mengakhiri duel lewat arm-triangle choke di ronde kedua. Sabuk lightweight resmi berpindah tangan. Malam itu bukan sekadar kemenangan gelar. Itu adalah malam ketika Islam Makhachev resmi menjadi penguasa divisi ringan UFC.
Alexander Volkanovski Pun Tumbang
Setelah menjadi juara, Islam tidak memilih jalur aman. Ia menerima tantangan Alexander Volkanovski, raja featherweight sekaligus petarung pound-for-pound terbaik dunia saat itu. Pertemuan pertama berlangsung sengit.
Namun dalam duel berikutnya di UFC 294, Makhachev memberi jawaban yang jauh lebih tegas. Sebuah head kick keras menghantam Volkanovski dan mengakhiri pertarungan dengan cepat. Salah satu petarung terbaik generasinya tumbang. Dominasi Islam semakin sulit dibantah.
Jack Della Maddalena dan Status Langka Juara Dua Divisi
Tak puas mendominasi lightweight, Islam mengambil langkah yang lebih ambisius. Ia naik kelas demi memburu gelar kedua. Targetnya adalah sabuk welterweight, dengan Jack Della Maddalena berdiri sebagai lawan di seberang oktagon. Risikonya besar. Lawan lebih besar, kelas berbeda, tekanan lebih tinggi. Tetapi sekali lagi, Islam menemukan cara menang.
Kemenangan atas Jack Della Maddalena membuatnya resmi menyandang status juara dua divisi UFC, pencapaian langka yang hanya mampu diraih segelintir nama besar sepanjang sejarah organisasi.
Kini, 11 tahun sejak malam debut melawan Leo Kuntz, perjalanan Islam Makhachev terasa seperti narasi yang nyaris lengkap. Ia pernah datang sebagai petarung minim sorotan. Pernah kalah KO. Pernah hidup di bawah bayang-bayang Khabib. Namun ia bangkit, berkembang, lalu mendominasi.
Dua sabuk juara dan daftar korban seperti Charles Oliveira, Alexander Volkanovski, hingga Jack Della Maddalena, Islam Makhachev kini bukan lagi sekadar petarung elite UFC. Ia telah menjelma menjadi salah satu simbol dominasi paling langka dalam sejarah organisasi, perusak rekor kemenangan beruntun panjang milik lawan-lawannya.
Sumber: ESPN MMA Fight History, Sherdog Fight Record, UFC Stats, Reuters Sports
Pelatih GSP Sebut Islam Makhachev sebagai GOAT UFC Usai Kalahkan Ian Garry
Islam Makhachev Ingin Kembali Bertarung Sebelum Ramadan 2027
5 Tanda Usman Nurmagomedov Segera Bertarung di UFC Usai Kemenangan Makhachev
Islam Makhachev Kerja Keras Taklukkan Ian Garry, Juara Dua DIvisi Cetak Rekor di UFC 330
Alexander Volkanovski Hadapi Movsar Evloev di UFC 333 Abu Dhabi