Jumat, 21 Agustus 2026

Ekonomi Global Menunjukkan Perbaikan, Tapi Tantangan di China dan Venezuela Tetap Mengkhawatirkan

Siti Amelia - Jumat, 09 Januari 2026 20:06 WIB
Ekonomi Global Menunjukkan Perbaikan, Tapi Tantangan di China dan Venezuela Tetap Mengkhawatirkan
dokumentasi
Komisioner OJK usai memberikan keterangan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Jumat (9/1/2026).

Kitakini.news - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, mengungkapkan data perekonomian global secara keseluruhan menunjukkan perbaikan. Namun, kinerja ekonomi Tiongkok masih di bawah ekspektasi, meskipun aktivitas manufaktur dunia tetap berada di zona ekspansi, meski lajunya melambat seiring penurunan kepercayaan konsumen global.

Baca Juga:

Dalam keterangannya secara virtual, Jumat (9/1/2026), Siregar menjelaskan bahwa lembaga multilateral memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 akan terus melandai dan berada di bawah rata-rata pra-pandemi. Hal ini dipicu oleh risiko fiskal yang meningkat di beberapa negara besar.

Di Amerika Serikat, perekonomian terlihat solid. Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III 2025 tumbuh 4,3 persen secara tahunan (year-on-year), melampaui ekspektasi pasar. Pertumbuhan ini didukung oleh konsumsi rumah tangga yang kuat, penurunan impor, dan lonjakan investasi di bidang kecerdasan buatan. Namun, pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda-tanda moderasi, dengan inflasi November 2025 turun ke 2,7 persen dan inflasi inti ke 2,6 persen, dari 3,0 persen di Oktober 2025.

Sementara itu, Tiongkok menghadapi perlambatan berkelanjutan. Konsumsi rumah tangga masih tertahan, PMI manufaktur kembali ke zona kontraksi, dan tekanan di sektor properti belum mereda. Kondisi ini mendorong beberapa bank sentral untuk menerapkan kebijakan akomodatif.

The Federal Reserve (Fed) AS memangkas Federal Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin pada Desember 2025, sedangkan Bank of England (BoE) juga menurunkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75 persen, yang merupakan pemangkasan keempat sepanjang 2025.

Di sisi lain, Bank of Japan (BoJ) justru menaikkan suku bunga kebijakan ke level tertinggi dalam tiga dekade terakhir, akibat tekanan inflasi yang persisten di Jepang.

Perbedaan arah kebijakan ini memengaruhi dinamika pasar keuangan global. Pasar saham dunia umumnya menguat sebagai respons terhadap pemangkasan FFR, meski ada kekhawatiran gelembung di saham teknologi.

Sementara itu, kenaikan suku bunga Jepang melemahkan pasar obligasi pemerintah global, karena praktik carry trade yang selama ini mendukungnya berakhir. Di awal 2026, pelaku pasar juga mencermati perkembangan geopolitik di Venezuela, yang berpotensi mengganggu stabilitas politik dan pasar keuangan dunia.

Di tengah dinamika global ini, perekonomian Indonesia pada Desember 2025 mencatatkan kenaikan inflasi inti. Namun, sektor manufaktur tetap ekspansif, dan kinerja eksternal terjaga dengan neraca perdagangan yang masih surplus.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Cegah Transfer Pricing, OJK Lantik Henry Rialdi Jadi Deputi Komisioner BMKS  Judul Alternatif

Cegah Transfer Pricing, OJK Lantik Henry Rialdi Jadi Deputi Komisioner BMKS Judul Alternatif

Konflik Iran-AS Memanas Lagi, Pasar Keuangan RI Dibayangi Risiko Inflasi dan Pelemahan Rupiah

Konflik Iran-AS Memanas Lagi, Pasar Keuangan RI Dibayangi Risiko Inflasi dan Pelemahan Rupiah

Bentengi Pelajar dari Produk Keuangan Ilegal, OJK Sumut dan Pemkab Karo Dorong Budaya Menabung Resmi

Bentengi Pelajar dari Produk Keuangan Ilegal, OJK Sumut dan Pemkab Karo Dorong Budaya Menabung Resmi

IHSG dan Rupiah Bergerak Sideways, Harga Emas Tertekan Koreksi Teknikal

IHSG dan Rupiah Bergerak Sideways, Harga Emas Tertekan Koreksi Teknikal

OJK Inisiasi Satgas Pembiayaan UMKM, Bidik Ekosistem Keuangan yang Lebih Inklusif

OJK Inisiasi Satgas Pembiayaan UMKM, Bidik Ekosistem Keuangan yang Lebih Inklusif

SNLIK 2026: Inklusi Keuangan Capai 93,61%, Kelompok Muda dan Perkotaan Paling Melek Finansial

SNLIK 2026: Inklusi Keuangan Capai 93,61%, Kelompok Muda dan Perkotaan Paling Melek Finansial

Komentar
Berita Terbaru