Ekonomi Global Menunjukkan Perbaikan, Tapi Tantangan di China dan Venezuela Tetap Mengkhawatirkan
Kitakini.news - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, mengungkapkan data perekonomian global secara keseluruhan menunjukkan perbaikan. Namun, kinerja ekonomi Tiongkok masih di bawah ekspektasi, meskipun aktivitas manufaktur dunia tetap berada di zona ekspansi, meski lajunya melambat seiring penurunan kepercayaan konsumen global.
Baca Juga:
Dalam keterangannya secara virtual, Jumat (9/1/2026), Siregar menjelaskan bahwa lembaga multilateral memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 akan terus melandai dan berada di bawah rata-rata pra-pandemi. Hal ini dipicu oleh risiko fiskal yang meningkat di beberapa negara besar.
Di Amerika Serikat, perekonomian terlihat solid. Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III 2025 tumbuh 4,3 persen secara tahunan (year-on-year), melampaui ekspektasi pasar. Pertumbuhan ini didukung oleh konsumsi rumah tangga yang kuat, penurunan impor, dan lonjakan investasi di bidang kecerdasan buatan. Namun, pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda-tanda moderasi, dengan inflasi November 2025 turun ke 2,7 persen dan inflasi inti ke 2,6 persen, dari 3,0 persen di Oktober 2025.
Sementara itu, Tiongkok menghadapi perlambatan berkelanjutan. Konsumsi rumah tangga masih tertahan, PMI manufaktur kembali ke zona kontraksi, dan tekanan di sektor properti belum mereda. Kondisi ini mendorong beberapa bank sentral untuk menerapkan kebijakan akomodatif.
The Federal Reserve (Fed) AS memangkas Federal Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin pada Desember 2025, sedangkan Bank of England (BoE) juga menurunkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75 persen, yang merupakan pemangkasan keempat sepanjang 2025.
Di sisi lain, Bank of Japan (BoJ) justru menaikkan suku bunga kebijakan ke level tertinggi dalam tiga dekade terakhir, akibat tekanan inflasi yang persisten di Jepang.
Perbedaan arah kebijakan ini memengaruhi dinamika pasar keuangan global. Pasar saham dunia umumnya menguat sebagai respons terhadap pemangkasan FFR, meski ada kekhawatiran gelembung di saham teknologi.
Sementara itu, kenaikan suku bunga Jepang melemahkan pasar obligasi pemerintah global, karena praktik carry trade yang selama ini mendukungnya berakhir. Di awal 2026, pelaku pasar juga mencermati perkembangan geopolitik di Venezuela, yang berpotensi mengganggu stabilitas politik dan pasar keuangan dunia.
Di tengah dinamika global ini, perekonomian Indonesia pada Desember 2025 mencatatkan kenaikan inflasi inti. Namun, sektor manufaktur tetap ekspansif, dan kinerja eksternal terjaga dengan neraca perdagangan yang masih surplus.
NPL UMKM dan BPR di Sumut Melonjak di Tengah Pertumbuhan Sektor Keuangan
OJK Terbitkan Dua POJK untuk Perkuat Pengaturan dan Pengawasan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis
Perkuat Kepercayaan dan Kenyamanan, Asuransi Astra dan OJK Bahas Pelindungan Konsumen
OJK: Industri Perbankan Tetap Optimis di Triwulan III-2026 Meski Ketidakpastian Global Meningkat
OJK Catat Pembiayaan Perbankan Tumbuh 13,58 Persen per Juli 2026, Kredit Investasi Jadi Pendorong Utama