Impor Sumatera Utara Turun 5,65 Persen, Pertanda Perlambatan Ekonomi Regional?
Statistisi Ahli Utama Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara, Misfaruddin, menjelaskan bahwa penurunan ini mencerminkan dinamika ekonomi regional yang mungkin dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas global dan permintaan domestik.
Baca Juga:
"Penurunan impor ini bisa menjadi indikator perlambatan aktivitas ekonomi di Sumatera Utara, terutama karena sebagian besar impor berasal dari bahan bakar mineral dan mesin-mesin mekanik yang sering terkait dengan industri manufaktur dan energi," ujarnya dalam keterangan resmi BPS.
Secara keseluruhan, impor dari sepuluh golongan barang utama turun US$96,94 juta atau 2,63 persen, sementara golongan barang lainnya mengalami penurunan lebih dalam sebesar US$230,32 juta atau 10,89 persen. Dari sisi kawasan, Asia di luar ASEAN menyumbang 39,13 persen dari total impor, diikuti ASEAN dengan 31,65 persen.
Misfaruddin menambahkan bahwa kontribusi sepuluh negara asal utama, termasuk Tiongkok sebagai pemasok terbesar dengan US$1.655,89 juta, turun 4,28 persen. "Ini menunjukkan perlunya strategi diversifikasi sumber impor untuk mengurangi risiko ketergantungan pada pasar tertentu," pungkasnya.
Penurunan ini diharapkan dapat mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan produksi dalam negeri guna mengimbangi defisit impor, meskipun dampaknya terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi masih perlu dipantau lebih lanjut.
BAMPERSU Dukung Langkah Kejari Medan Bongkar Dugaan Korupsi BLUD RSUD dr. Pirngadi
Tak Hanya Liputan, Persatuan Wartawan Pemko Medan Unjuk Gigi di Bazar UMKM APEKSI 2026
Pemprovsu Apresiasi ADB Dorong Pengembangan KEK dan Pertumbuhan Ekonomi
Perjuangan Sofyan Tan Berhasil, Pemerintah Siapkan Rp1,8 Triliun untuk PTS
Thailand Lolos Dramatis, Malaysia Tumbang 3-2 di Stadion Teladan