Minggu, 05 Juli 2026

Sumut Aman dari 10 Besar Provinsi dengan Angka Kematian Ibu Terbanyak

Fitri - Kamis, 10 Juli 2025 19:33 WIB
Sumut Aman dari 10 Besar Provinsi dengan Angka Kematian Ibu Terbanyak
Ilustrasi/freepik
Ibu hamil
Kitakini.news - Sumatra Utara (Sumut) bisa dikatakan aman dari daftar 10 besar provinsi dengan kematian ibu terbanyak di Indonesia.

Melansir berbagai sumber, Kamis (10/7/2025), provinsi yang memiliki angka terbanyak kematian ibu saat hamil, melahirkan, atau pascapersalinan adalah Papua dengan 565 kasus.

Baca Juga:

Setelah Papua ada Papua Barat dengan 343 kasus. Lalu diikuti Nusa Tenggara Timur 316 kasus, Sulawesi Barat 274 kasus, dan Gorontalo sebanyak 266 kasus.

Provinsi yang masuk 10 besqr lainnya adalah Sulawesi Tengah 264 kasus, Maluku 261 kasus, Nusa Tenggara Barat 257 kasus, Maluku Utara 255 kasus, dan Bengkulu dengan 246 kasus.

Berdasarkan data Maternal Perinatal Death Notification (MPDN), jumlah kematian ibu di Indonesia mencapai 4.129 kasus sepanjang 2023, naik dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat 4.005 kasus.

Sementara itu, data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maternal mortality rate (MMR) Indonesia sebesar 140 per 100 ribu kelahiran hidup pada 2023.

Meski angkanya menurun dibandingkan 2021 dan 2022, jumlah ini masih tergolong tinggi dan mengkhawatirkan.

Kementerian Kesehatan RI, melalui Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, Lovely Daisy mengungkapkan penyebab paling umum dari kematian ibu adalah hipertensi saat kehamilan atau preeklampsia, serta perdarahan saat atau setelah proses persalinan.

"Sebenarnya ini bisa dicegah," ujar Lovely.

Sebagai informasi, preeklampsia merupakan kondisi tekanan darah tinggi yang muncul pada kehamilan, biasanya setelah usia kehamilan 20 minggu.

Masalah ini dapat memicu kerusakan organ, termasuk ginjal dan hati, bahkan mengancam nyawa ibu dan janin jika tidak segera ditangani.

Selain preeklampsia, perdarahan hebat setelah melahirkan juga menjadi penyumbang besar angka kematian ibu di Indonesia.

Sekitar 80 persen kasus perdarahan disebabkan oleh pelemahan kontraksi rahim, yang membuat pembuluh darah di lokasi plasenta tidak tertutup dengan baik.

Kondisi ini bisa terjadi dalam waktu satu hari hingga satu minggu setelah melahirkan. Bila tidak ditangani dengan cepat, perdarahan hebat bisa menyebabkan kematian dalam hitungan jam.

Selain itu, Kementerian Kesehatan juga mencatat sejumlah kondisi medis yang meningkatkan risiko kematian ibu, di antaranya anemia, hipertensi, kurang energi kronik (KEK), dan komplikasi kehamilan.

Tak hanya itu, penyakit penyerta seperti jantung dan diabetes juga disebut menjadi penyebab yang sering luput dari perhatian.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Bea Cukai Teluk Nibung Musnahkan Ballpres Tekstil dan Minuman Keras

Bea Cukai Teluk Nibung Musnahkan Ballpres Tekstil dan Minuman Keras

Warga Tewas di Depan Kantornya, Wali Kota Pematangsiantar Dianggap Tak Peduli

Warga Tewas di Depan Kantornya, Wali Kota Pematangsiantar Dianggap Tak Peduli

Bobby Dukung Penataan Kota dan Penguatan Pelayanan Publik di Tanjung Balai

Bobby Dukung Penataan Kota dan Penguatan Pelayanan Publik di Tanjung Balai

Duet Eko-Ramon Tribulietx Segera Mulai Persiapan PSMS

Duet Eko-Ramon Tribulietx Segera Mulai Persiapan PSMS

Polres Tapteng Fasilitasi Perdamaian Ibu dan Anak Terkait Kasus Sepeda Motor

Polres Tapteng Fasilitasi Perdamaian Ibu dan Anak Terkait Kasus Sepeda Motor

Peran Paling Berbeda, Dwi Sasono Jadi Ayah Toxic dalam Film Jangan Buang Ibu, Tayang Juni Ini

Peran Paling Berbeda, Dwi Sasono Jadi Ayah Toxic dalam Film Jangan Buang Ibu, Tayang Juni Ini

Komentar
Berita Terbaru