Sabtu, 04 Juli 2026

Fabregas Bawa Klub Kecil Como 1907 ke Liga Champions, Klub Besar Tersingkir

Keajaiban Como, Fabregas Antar ke Liga Champions
Sukri - Senin, 25 Mei 2026 15:40 WIB
Fabregas Bawa Klub Kecil Como 1907 ke Liga Champions, Klub Besar Tersingkir
istimewa
Selebrasi pemain usai Como1907 memastikan satu tiket Liga Champions musim mendatang. (Foto: comofootbal/Instagram)

Kitakini.news - Tak ada yang benar-benar siap melihat keajaiban ini terjadi. Di tengah gemerlap nama besar Serie A, Como 1907 justru mencuri panggung dengan cara yang nyaris mustahil dipercaya. Klub yang belum lama meninggalkan bayang-bayang kasta bawah itu resmi mengunci tiket Liga Champions musim depan setelah menggulung Cremonese 4-1 pada laga terakhir Serie A 2025/2026. Malam sempurna MInggu (24.5.2026) atau Senin (25/5/2026) dini hari WIB itu terasa semakin dramatis ketika kabar kekalahan AC Milan dari Cagliari tiba, mengubah ruang ganti Como menjadi lautan air mata, pelukan, dan selebrasi sejarah.

Baca Juga:

Ya, rival terdekat mereka, AC Milan, justru tersungkur di kandang sendiri usai kalah 1-2 dari Cagliari. Saat peluit panjang berbunyi di San Siro, pesta pun pecah di kubu Como. Klub yang dulu hanya dipandang sebagai penggembira kini resmi berdiri di panggung elite Eropa.

Tak banyak yang memperkirakan Como mampu melaju sejauh ini ketika musim dimulai. Status mereka hanyalah tim kejutan dengan target realistis bertahan di Serie A. Namun semuanya berubah di bawah arahan Cesc Fabregas. Mantan gelandang Arsenal, Barcelona, dan Chelsea itu membentuk tim yang bermain berani, disiplin, dan percaya diri menghadapi siapa pun.

Laga di markas Cremonese menjadi pembuktian terakhir dari perjalanan luar biasa itu. Como tampil tanpa rasa takut sejak menit awal. Tekanan besar yang menyelimuti pertandingan tak terlihat di wajah para pemain. Sebaliknya, mereka bermain tenang dan efektif, memperlihatkan mental tim besar ketika taruhannya adalah tiket Liga Champions.

Empat gol berhasil dilesakkan ke gawang tuan rumah, sementara Cremonese hanya mampu membalas satu kali. Skor 4-1 bukan hanya kemenangan biasa, tetapi simbol bagaimana Como menutup musim dengan cara yang nyaris sempurna. Ironisnya, kekalahan itu juga memastikan Cremonese harus turun kasta ke Serie B. Sementara itu, 71 poin yang diraih Como membuat tim tersebut berada di peringkat keempat klasemen akhir Serie A.

Namun drama terbesar justru datang ratusan kilometer dari sana. Di San Siro, AC Milan yang masih punya peluang menyalip Como justru tampil mengecewakan. Rossoneri sempat memberi harapan kepada pendukungnya, tetapi Cagliari mampu membalikkan keadaan dan memupus mimpi Milan tampil di Liga Champions musim depan. Milan harus puas di tempat kelima dengan 70 poin dan berlaga di Liga Eropa UEFA.

Ketika kabar kekalahan Milan sampai ke ruang ganti Como, suasana berubah menjadi ledakan emosi. Pemain, staf pelatih, hingga para pendukung larut dalam selebrasi. Sebuah mimpi yang sebelumnya terasa mustahil akhirnya berubah menjadi kenyataan.

Cesc Fabregas menjadi sosok yang paling disorot dalam malam bersejarah itu. Dengan wajah penuh emosi, pelatih asal Spanyol tersebut mengaku pencapaian Como lahir dari keyakinan yang dibangun sejak awal musim.

"Kami membicarakan mimpi ini sejak awal. Saya mengatakan kepada para pemain bahwa kami bisa mencapai Liga Champions jika terus percaya," ujar Fabregas usai pertandingan.

Fabregas juga menjelaskan bagaimana Como berkembang menjadi tim yang solid melalui budaya kerja keras setiap hari.

"Klub ini seperti universitas sepak bola. Semua berkembang bersama, bekerja setiap hari dengan rasa lapar yang sama," katanya.

Di tengah rumor yang menghubungkannya dengan sejumlah klub besar Eropa, Fabregas menegaskan bahwa proyek Como masih jauh dari kata selesai.

"Saya tidak terburu-buru pergi. Kami sedang membangun sesuatu yang spesial di sini," tegas mantan juara Piala Dunia bersama Spanyol tersebut.

Keberhasilan Como terasa unik karena mereka tidak memiliki status elite seperti Juventus, Inter Milan, atau AC Milan. Mereka juga bukan tim bertabur pemain mahal. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat kisah mereka begitu memikat. Como tumbuh perlahan, membangun identitas, lalu mengejutkan Italia dengan keberanian yang sulit dijelaskan lewat angka statistik semata.

Sumber: Reuters, Football Italia, Flashscore, Bay to Bay News.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Tak Tepis Bola Saat Adu Penalti, Safonov Tetap Jadi Pembawa Hoki PSG Juara Liga Champions

Tak Tepis Bola Saat Adu Penalti, Safonov Tetap Jadi Pembawa Hoki PSG Juara Liga Champions

Luis Enrique Ungkap Rahasia PSG Pertahankan Takhta Liga Champions

Luis Enrique Ungkap Rahasia PSG Pertahankan Takhta Liga Champions

PSG Pertahankan Takhta Liga Champions, Arsenal Menangis di Budapest

PSG Pertahankan Takhta Liga Champions, Arsenal Menangis di Budapest

PSG atau Arsenal? Final Liga Champions Siap Sajikan Duel Sengit

PSG atau Arsenal? Final Liga Champions Siap Sajikan Duel Sengit

PSG vs Arsenal: Dua Jalan Berbeda Menuju Final Liga Champions 2025/2026: Siapa Layak Juara?

PSG vs Arsenal: Dua Jalan Berbeda Menuju Final Liga Champions 2025/2026: Siapa Layak Juara?

Alarm Bahaya PSG, Dembele Terancam Absen Final

Alarm Bahaya PSG, Dembele Terancam Absen Final

Komentar
Berita Terbaru