Sabtu, 10 Oktober 2026

Sumut Diproyeksi Alami Deflasi Besar di Januari 2026, Harga Cabai Merah Turun Drastis

Siti Amelia - Kamis, 29 Januari 2026 15:10 WIB
Sumut Diproyeksi Alami Deflasi Besar di Januari 2026, Harga Cabai Merah Turun Drastis
pixabay
ilustrasi

Kitakini.news - Sumatera Utara (Sumut) diperkirakan akan mengalami deflasi signifikan pada bulan Januari 2026, setelah mencatatkan inflasi tinggi di akhir tahun 2025. Hal ini disampaikan oleh Analis Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, yang menjelaskan bahwa penurunan harga sejumlah komoditas pangan menjadi pendorong utama deflasi tersebut.

Baca Juga:

Menurut Gunawan Benjamin, deflasi di Sumut diproyeksikan mencapai minimal 0,56 persen secara month-to-month. Komoditas pangan yang berkontribusi besar terhadap penurunan harga meliputi cabai merah yang turun sekitar 45 persen, cabai rawit turun sekitar 13 persen, bawang merah turun sekitar 15,4 persen, telur ayam turun sekitar 3,62 persen, gula pasir curah turun 6,6 persen, dan minyak goreng curah turun sekitar 18,2 persen.

"Penurunan harga komoditas hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah terutama disebabkan oleh perbaikan pasokan setelah bencana besar pada November 2025. Harga pangan di bulan Desember 2025 mencapai puncak tertinggi akibat gangguan pasokan, sehingga pemulihan bencana mendorong pelemahan harga," ujar Ketua Tim Pemantau Harga Pasar Sumut ini, Kamis (29/1/2026).

Meski demikian, beberapa komoditas lainnya mengalami kenaikan harga, seperti daging ayam, daging sapi, bawang putih, gula pasir premium, minyak goreng kemasan, dan emas. Gunawan Benjamin menegaskan bahwa kenaikan laju inflasi di awal tahun tidak akan terjadi pada 2026, berkat penurunan harga kebutuhan pangan pokok.

Secara regional, wilayah seperti Gunung Sitoli/Nias dan Tapanuli berpotensi mencatat deflasi lebih tinggi dibandingkan rata-rata Sumut. Sebagai contoh, harga cabai merah di Gunung Sitoli saat ini berada di kisaran Rp33.750 per kilogram, berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS). Angka ini jauh berbeda dengan bulan Desember 2025, yang sempat mencapai Rp200.000 hingga Rp300.000 per kilogram.

"Gunung Sitoli berpeluang mencetak deflasi lebih tinggi dibanding wilayah lain di Sumut. Bahkan, deflasi di daerah ini bisa berlanjut hingga Februari 2026, tergantung pada besaran deflasi di Januari," tambah Gunawan Benjamin, yang menekankan bahwa situasi ini berbeda dengan mayoritas wilayah Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumut.

Proyeksi ini didasarkan pada pemantauan pasar dan data ekonomi terkini, dengan harapan deflasi dapat memberikan angin segar bagi masyarakat Sumut dalam mengendalikan biaya hidup. Gunawan Benjamin mengimbau pemerintah daerah untuk terus memantau pasokan pangan guna mencegah fluktuasi harga yang ekstrem di masa mendatang.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Perempuan 56 Tahun Ditemukan Meninggal di Bekas Kolam Ikan di Nias

Perempuan 56 Tahun Ditemukan Meninggal di Bekas Kolam Ikan di Nias

Pertina Medan Keberatan Kontingen Porprovsu Dikelola Dispora, Ancam Tak Berangkatkan Atlet

Pertina Medan Keberatan Kontingen Porprovsu Dikelola Dispora, Ancam Tak Berangkatkan Atlet

Aris Rinaldi Nasution Kembali Pimpin Forwakum Sumut, Tekankan Soliditas Organisasi

Aris Rinaldi Nasution Kembali Pimpin Forwakum Sumut, Tekankan Soliditas Organisasi

Hari Pertama di Mapolda Sumut, Sonny Irawan Tekankan Pelaksanaan Tugas Lebih Baik

Hari Pertama di Mapolda Sumut, Sonny Irawan Tekankan Pelaksanaan Tugas Lebih Baik

Panen Raya di Sumut Belum Mampu Turunkan Harga Beras

Panen Raya di Sumut Belum Mampu Turunkan Harga Beras

Menteri Kanan Kamboja Buka Konferensi "Ummah SE ASEAN" ke-4

Menteri Kanan Kamboja Buka Konferensi "Ummah SE ASEAN" ke-4

Komentar
Berita Terbaru