IHSG Anjlok 2,03% ke 6.959, Pelemahan Rupiah ke Rp17.305/US$ Tekan Pasar Saham Indonesia
Kitakini.news - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terpuruk pada perdagangan Kamis (30/4/2026), meski sempat dibuka menguat di level 6.957,03. Tekanan hebat dari pelemahan rupiah memicu penurunan tajam hingga IHSG ditutup melemah 2,03% di posisi 6.959,804. Dari total 814 emiten, sebanyak 576 saham terkoreksi, 133 saham naik, dan 105 saham stabil.
Baca Juga:
Saham-saham blue chip seperti BBCA, BBRI, BMRI, ANTM, hingga ASII menjadi kontributor utama penurunan tersebut. Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) semakin tertekan, ditutup di level Rp17.305/US$, setelah sempat menyentuh Rp17.385/US$ intraday. Pelemahan ini terjadi di tengah kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang memilih mempertahankan suku bunga acuan, memicu sentimen hawkish di pasar global.
Bank Indonesia (BI) diyakini terus melakukan intervensi untuk menahan rupiah yang nyaris menyentuh Rp17.400/US$. Namun, tekanan pelemahan rupiah masih kuat, didorong oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menjaga harga minyak mentah dunia di atas US$100 per barel. Pada sesi perdagangan hari ini, minyak mentah bergerak di rentang US$106–110 per barel, memicu kekhawatiran inflasi global dan kebijakan moneter ketat dari bank sentral.
Di sisi positif, harga emas dunia berbalik naik ke US$4.635 per ons troy sore ini, setara sekitar Rp2,59 juta per gram. Kenaikan ini mencerminkan safe haven asset di tengah gejolak pasar.
Analisis Pakar: Sentimen Eksternal Dominan
Gunawan Benjamin, Analis Ekonomi asal Sumatera Utara sekaligus dosen di Universitas Islam Sumatera Utara (UINSU), menilai pelemahan IHSG dan rupiah sebagai respons wajar terhadap faktor eksternal. "Tekanan utama datang dari tensi geopolitik Timur Tengah yang mendongkrak harga minyak, ditambah kebijakan The Fed yang hawkish. BI memang intervensi, tapi sentimen global ini sulit ditahan jangka pendek. Investor disarankan fokus pada saham defensif dan pantau data inflasi AS mendatang," ujar Gunawan.
Kondisi ini menambah kekhawatiran pelaku pasar domestik, terutama menjelang akhir pekan. Pantauan Blackbox News menunjukkan IHSG berpotensi melanjutkan volatilitas jika rupiah tak kunjung stabil. Investor disarankan waspada terhadap fluktuasi harga komoditas global.