Pertalite Langka di SPBU, Daya Beli Warga Kian Tertekan Harus Beli Pertamax
Kitakininews.co.id - Keluhan warga yang kehabisan bakan bakar minyak (BBM) saat melajukan kendaraan bermotor kian banyak di media sosial. Bahkan, beberapa wartawan yang tergabung dalam grup wartawan Pertamina Patra Niaga pun merasakannya. Seperti diungkap Farida, wartawan CNN ini mengaku harus mendorong sepeda motornya untuk mendapatkan BBM.
Baca Juga:
"Aku pun mogok (sepeda motornya). Sempat habis minyak. Untung ada yg bantu dorong dari AH Nasution ke Karya Jaya. Tadi udah mulai masuk truk tangki, tapi nengok antrean di SPBU gak sanggup jantung. Nyari eceran yang di pinggir jalan pun sulit. Kalaupun ada, mereka jualnya sembunyi-sembunyi. Harganya Rp25 ribu sebotol," ucapnya menjawab wartawan ini.
Sebelumnya, wartawan kitakininews.co.id pun menyampaikan keluhan lantaran sepeda motor mogok dan harus mendorong berkilo meter untuk mencari pedagang eceran, lantaran antrean panjang di SPBU tidak bisa diikuti karena akan mengejar deadline. Dan wartawan Kompas TV pun menyampaikan hal serupa, tapi mereka terpaksa pasrah membeli BBM dengan harga yang jauh lebih mahal, karena tidak ada waktu untuk antre.
Kondisi kelangkaan BBM ini, menurut ekonom Sumut, Gunawan Benjamin membuat tekanan hidup masyarakat kian bertambah. Jika sebelumnya antrean panjang di SPBU didominasi oleh kendaraan pengguna Solar subsidi, kini pemandangan serupa mulai merembet ke jalur pengisian Pertalite dan Pertamax.
Fenomena habisnya stok Pertalite di sejumlah SPBU memaksa pengendara sepeda motor dan mobil pribadi beralih membeli Pertamax yang harganya lebih mahal. Bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, situasi tanpa pilihan ini jelas memicu pembengkakan pengeluaran harian dan menekan daya beli mereka.
"Selain menguras kantong, kelangkaan Pertalite juga mulai mengganggu mobilitas harian warga. Sebagian masyarakat terpaksa membatasi aktivitas ekonomi mereka karena khawatir kehabisan bahan bakar di tengah jalan atau enggan mengantre terlalu lama," ucapnya, Selasa (14/7/2026).
Di sisi lain, masalah kelangkaan dan antrean BBM di dalam negeri ini sebenarnya memiliki keterkaitan erat dengan kondisi global yang sedang tidak menentu. Kemampuan keuangan (fiskal) pemerintah untuk menyalurkan subsidi saat ini sedang diuji oleh dua faktor eksternal utama, yakni pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS yang membuat biaya impor minyak menjadi lebih mahal.Dan, kenaikan harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran.
"Kini, masyarakat hanya bisa berharap pemerintah dapat segera turun tangan guna memulihkan pasokan BBM di SPBU agar aktivitas ekonomi warga kembali berjalan normal tanpa dibayangi ketakutan akan kelangkaan energi," pungkasnya.