Waktunya Puan Menembus Batas Industri Tambang
Kitakininews.co.id -Di balik bising mesin peleburan aluminium dan beratnya industri pertambangan yang identik dengan lelaki, ada wajah puan yang pelan-pelan mengubah peta persaingan. Pertambangan nasional kini tak cuma soal tonase komoditas atau proyek hilirisasi, tapi juga cerita tentang inklusivitas dan peran perempuan yang makin diperhitungkan.
Baca Juga:
MIND ID, holding BUMN tambang yang membawahi ANTAM, INALUM, Bukit Asam, Freeport Indonesia, Timah, dan Vale Indonesia, memang terus memacu hilirisasi demi memperkuat posisi Indonesia di pasar global. Langkah ini terbukti dari lonjakan pendapatan grup dari Rp93,75 triliun pada 2021 menjadi Rp159,46 triliun pada 2025, dengan total aset menyentuh Rp307,65 triliun. Namun, di balik angka-angka jumbo tersebut, ada fakta menarik dari sisi SDM.
Dari 10.252 pekerja di ekosistem MIND ID, sekitar 11 persennya adalah perempuan. Para puan ini bersinggungan langsung dengan operasional perusahaan, mulai dari balik meja kantor hingga area open pit di tambang. Fakta ini diungkap Corporate Communication MIND ID, Muhammad Richard dalam Sosialisasi Media MIND 2026 di Medan, beberapa waktu lalu.
"Sebagai holding industri pertambangan milik negara, MIND ID bersama anggota grup, terus menggenjot transformasi hilirisasi terintegrasi. Langkah ini bertujuan untuk menguasai cadangan domestik demi kedaulatan bangsa sekaligus menjadi market maker global," ungkap dia.
Langkah-langkah strategis yang dilakukan pun berbuah manis. Dalam lima tahun, pendapatan Grup MIND ID melonjak signifikan. MIND ID pun mendapatkan raihan gemilang sebagai perusahaan pertambangan nomor satu di Indonesia versi Majalah Fortune. "Semua yang diraih MIND ID ini, tidak terlepas dari keterlibatan tenaga kerja kita," ucap Richard.
Richard mengatakan,konsistensi MIND ID dalam menunjukkan peran perempuan di sektor pertambangan,untuk menjaga sustainibility peran wanita di industri ini. Di tingkat Dewan Komisaris, tercatat dua nama perempuan, Carmelita Hartoto (sebagai Komisaris Independen) dan Grace Natalie Louisa (sebagai Komisaris Independen). Bahkan anggota grup MIND ID, INALUM Melati Sarnita ditunjuk sebagai Direktur Utama.
Tidak hanya di tingkat atas, kini banyak pegawai perempuan yang muncul di MIND ID. "Mulai dari tugas kantor hingga ke site (tambang). Bahkan di Bukit Asam, banyak pegawai-pegawai perempuan yang muncul sampai ke open pit. Open pit itu tambang terbuka, batubara. Dan kehadiran perempuan di pertambangan kini mulai lumrah," tuturnya.
Kepala Grup Layanan Strategis INALUM, Daniel JP Hutauruk ST MM, menyebut perusahaan terus membenahi fasilitas kerja agar aman dan ramah bagi semua gender.INALUM, sambungnya, berupaya memunculkan lebih banyak pegawai perempuan dengan menciptakan ekosistem lingkungan yang aman dan nyaman.
Di INALUM sendiri, lanjutnya, pekerja perempuan di lapangan memang belum begitu banyak, karena faktor teknologi pabrik yang masih menggunakan teknologi tahun 70-an, terutama di Port 1 dan Port 3. Kondisi teknologi ini, jelas Daniel, belum sepenuhnya memadai bagi pekerja perempuan untuk langsung bekerja di area pabrik utama.
"Kalau kita benchmarking ke luar negeri, bahkan operator perempuan ada di sana. Karena di sana teknologi masuknya cukup masif, cukup nyamanuntuk pekerja perempuan. Jadi teknologi sebenarnya yang menjadi mendrive itu," jelas Daniel.
Sekarang, tutur Daniel, sebagian besar pegawai perempuan di INALUM banyak ditempatkan di laboratorium. Karena laboratorium membutuhkan keterampilan khusus, ketelitian, serta konsistensi. "Seperti yang kita ketahui, perempuan lebih baik dalam ketelitian," terangnya.
Selain itu, pegawai perempuan kini mulai aktif di bagian proyek, termasuk engineering maintenance yang sebelumnya tidak pernah ada perempuan, serta di kantor. "Makanya salah satu PR (pekerjaan rumah) besar INALUM adalah melakukan transformasi investasi teknologi dari era 70-an ke teknologi modern agar ke depannya semakin banyak potensi perempuan untuk ikut serta di seluruh lini pekerjaan, termasuk di pabrik," ungkap Daniel.
Semangat ketangguhan perempuan di sektor pertambangan juga tercermin jelas dari perjalanan karier Utrich Farzah, Kepala Departemen Manajemen Komunikasi INALUM. Puan yang akrab disapa Utiini, merupakan mantan jurnalis dan news anchor yang berani banting setir masuk ke dalam kerumitan industri peleburan aluminium.
Kepada wartawan, perempuan murah senyum ini mengungkapkan,peralihan kerja news achor ke Corporate Communication memberi dirinya kesempatan melihat proses komunikasi dari sisi yang berbeda. "Jika sebelumnya saya menyampaikan informasi kepada publik melalui ruang redaksi, sekarang saya ikut merumuskan pesan perusahaan dan menjaga hubungan dengan para pemangku kepentingan. Saya tertarik bergabung karena INALUM merupakan bagian dari industri strategis nasional yang memiliki proses bisnis kompleks dan dampak luas bagi Indonesia," tutur perempuan kelahiran 28 Januari ini.
Uti bercerita, awalnya dia membayangkan lingkungan industri berat akan sangat teknis dan kaku, cukup menantang bagi orang dengan latar belakang komunikasiseperti dirinya. Kenyataannya yang dia lihat cukup berbeda dari bayangannya. Uti mengaku menemukan lingkungan kerja yang profesional dan terbuka terhadap proses belajar.
"Tantangan teknisnya memang nyata, tetapi rekan-rekan dari berbagai fungsi banyak membantu saya memahami bisnis dan operasional perusahaan. Saya belajar bahwa kita tidak harus menguasai semuanya sejak hari pertama, tetapi harus mau bertanya dan memahami pekerjaan secara sungguh-sungguh," imbuh alumni Universitas Hasanuddin ini.
Menjalani proses belajar di INALUM, Uti menghadapi tantangan besar untuk memahami industri aluminium beserta istilah teknis, proses operasional, dan standar keselamatan. Karena dalam pekerjaan yang dia emban, pemahaman tersebut dibutuhkan agar informasi yang disampaikan kepada publik tetap akurat dan tidak kehilangan konteks.
Utrich Farzah, Kepala Departemen Manajemen Komunikasi INALUM. (dokumentasi)
"Tapi memang ada jetlag(adaptasi) nya juga. Sedikit banyak, pekerjaan saya sebagai jurnalis yang menuntut saya selalu cepat dan akurat karena berpacu dengan waktu deadline, membuat saya kadang terburu-buru, sehingga kadang melupakan hirearki. Yang mana di BUMN atau mungkin perusahaan lainnya hal tersebut cukup penting, approval (persetujuan) secara bertahap. Tapi seiring berjalanannya waktu, cepat beradaptasi menjadi kunci untuk bisa segera catch up(mengejar ketertinggalan) dengan situasi yang ada," ucapnya.
Uti mengaku,berada dalam perusahaan yang didominasi lelaki dirinya harus berupaya lebih keras bahkan dua kali lipat untuk bisa bertahan. Dengan rasa ingin tahu yang tinggi dan dukungan penuh dari lingkungan kerja yang objektif, Uti kini cukup percaya diri.
Pencapaian tertingginya terukir nyata ketika ia dipercaya menjadi perempuan pertama yang memimpin kepanitiaan INALUM di Hati. Rangkaian acara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang mencakup tiga wilayah kerja besar: Smelter Tanjung Gading, PLTA Paritohan, dan kantor Jakarta. Memimpin koordinasi yang melibatkan mayoritas rekan kerja laki-laki membuktikan bahwa perempuan mampu memegang kendali atas proyek berskala masif.
"Berada di perusahaan yang didominasi laki-laki, tentu menuntut upaya lebih keras, dan itu menjadi risiko sekaligus ruang pembuktian. Kehadiran perempuan memperkaya sudut pandang dalam tim, membangun komunikasi yang utuh, dan mempertimbangkan dampak keputusan secara komprehensif," tambah Uti.
Kehadiran perempuan di INALUM menurut Uti, dapa meningkatan pemahaman dalam menghadapi audiens, membangun komunikasi, dan mempertimbangkan dampak sebuah keputusan. "Namun, saya tidak ingin menganggap semua perempuan mempunyai pendekatan yang sama. Kekuatan sebuah tim justru muncul ketika orang dengan pengalaman dan cara berpikir yang berbeda diberi kesempatan setara untuk menyampaikan pandangan. Keragaman tersebut membuat keputusan perusahaan lebih utuh," imbuhnya.
Uti melihat, sekarang ini peluang perempuan untuk berkembang di INALUM semakin terbuka. Perempuan dapat berkontribusi di berbagai fungsi dan dipercaya memegang tanggung jawab strategis selama memiliki kompetensi, kemauan belajar, dan kinerja yang kuat.
"Saya berharap semakin banyak perempuan yang berani mengambil peran kepemimpinan, termasuk pada bidang yang selama ini lebih banyak diisi laki-laki. Ruangnya tersedia, tetapi kita juga perlu mempersiapkan diri untuk mengisinya," tutur dia.
Karena itu, Uti menyampaikan pesan agar jangan mundur hanya karena melihat jumlah perempuan masih sedikit dalam suatu perusahaan. "Datanglah dengan kompetensi, rasa ingin tahu, dan keberanian untuk terus belajar. Kita tidak perlu mengubah diri menjadi orang lain agar dapat diterima, tetapi tetap perlu beradaptasi dengan budaya dan tuntutan pekerjaan. Pada akhirnya, kualitas, integritas, dan konsistensi kerja yang akan membangun kepercayaan," tandasnya.
Genjot Kapasitas Produksi Tiga Lipat, INALUM Kantongi Rating Peringkat Kredit Internasional 'BBB'
Dante Sinaga Divonis 7 Tahun, Penasihat Hukum Soroti Hakim Abaikan Fakta Persidangan
Duplik Kasus Inalum, Penasihat Hukum Dante Sinaga: Transaksi di Masa Jabatan Telah Lunas
Perkuat Penanganan Karhutla di Mempawah, INALUM Turunkan Tim Gabungan dan Bantuan Medis
Solidaritas Jadi Aksi Nyata, INALUM Kirim Bantuan & Relawan untuk Korban Gempa NTT