Justin Gaethje Bela Islam Makhachev: Tak Peduli Disukai atau Tidak, Dia Memang Pemenang
Kitakininews.co.id - Juara kelas ringan UFC Justin Gaethje memberikan pembelaan kuat kepada Islam Makhachev yang kerap mendapat kritik dari sebagian pencinta mixed martial arts karena gaya bertarungnya yang dianggap terlalu mengandalkan gulat dan kontrol.
Baca Juga:
Hal itu disampaikan Gaethje ketika diwawancarai legenda UFC Demetrious Johnson dalam kanal YouTube Mighty, MightyCast, yang tayang Rabu (9/9/2026) waktu Amerika Serikat atau Kamis (10/9/2026) waktu Indonesia. Episode tersebut membahas berbagai hal, termasuk Islam, kelas ringan, Ilia Topuria hingga Arman Tsarukyan.
Rekan Demetrious Johnson menanyakan kemungkinan pertarungan Gaethje melawan Makhachev jika sang petarung Dagestan suatu hari kembali ke kelas 155 pound. Gaethje tidak menutup peluang tersebut.
"Saya akan mengatakan iya. Saya akan mempertahankan diri saya. Saya akan mempertahankan sabuk saya melawan siapa pun yang mereka inginkan," kata Gaethje.
Namun, juara lightweight itu langsung memberikan catatan. Menurutnya, kemungkinan Makhachev kembali ke 155 pound sangat kecil setelah naik ke welterweight dan membangun tubuh untuk kelas 170 pound.
"Kemungkinannya negatif satu juta persen bahwa orang itu bisa kembali ke 155," ujar Gaethje.
Ia kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan pengalaman dirinya sendiri ketika harus menjaga berat badan. Menurut Gaethje, sekali seorang petarung terbiasa bertanding di kelas lebih berat, kembali melakukan pemotongan berat badan ekstrem bukan perkara mudah.
Pembahasan kemudian bergeser pada gaya bertarung Makhachev. Johnson menyinggung kritik sebagian penggemar yang menganggap pertarungan Islam kurang menghibur karena strategi dominasi gulat dan kontrol lawan. Gaethje justru tidak mempermasalahkan hal tersebut.
"Saya menyukai para pemenang, jadi saya penggemar berat Islam," kata Gaethje.
Ia mengakui gaya Makhachev mungkin bukan tipe pertarungan yang selalu menjadi favoritnya untuk ditonton. Namun, menurut Gaethje, hal tersebut tidak mengurangi rasa hormat terhadap pencapaian sang mantan juara lightweight.
"Apakah malam ketika Islam Makhachev bertarung menjadi malam favorit saya? Tidak. Tetapi saya benar-benar menghormati alasan mengapa dia berada di sana (petarung terbaik UFC saat ini. Bagaimana dia bertarung, seperti yang dianggap banyak orang, sebenarnya bukanlah sesuatu yang berarti," ujarnya.
Gaethje juga memuji disiplin Makhachev dan lingkungan tempat ia dibesarkan dalam tradisi bela diri Sambo. Menurutnya, kombinasi latihan sejak usia muda, disiplin dan konsistensi membuat Makhachev pantas mendapatkan seluruh penghargaan yang diraihnya.
"Ini adalah fakta yang sangat luar biasa bahwa anak muda dari belahan dunia tersebut sudah mengenal dan mempelajari teknik-teknik kuncian sejak usia yang sangat muda melalui Sambo," ungkapnya.
Selain itu, kedisiplinan yang dinilai berasal dari agama mereka Islam, menjadi hal positif lain yang membuat kemampuan mereka luar biasa.
"Meka adalah Muslim dan sepanjang hidupnya tidak pernah minum alkohol ataupun merokok. Disiplin mereka benar-benar luar biasa, nyaris tidak ada tandingannya. Dia pantas mendapatkan setiap penghargaan dan pencapaian yang telah diraihnya," ungkapnya.
Makhachev sendiri kini telah membangun reputasi sebagai salah satu petarung paling dominan di UFC. UFC mencatat rekor 17 kemenangan beruntun di organisasi tersebut, setelah sebelumnya merebut dan mempertahankan sabuk lightweight sebelum naik ke welterweight.
Jean Silva vs Jose Miguel Delgado: Duel Panas Noche UFC di Glendale
Michael Venom Page Buka Suara Usai Dicoret UFC, Siap Hadapi Tantangan Baru
Evloev Beri Peringatan Keras untuk Volkanovski Jelang UFC 333 Abu Dhabi
Gila! Bilal Hasan Pukul KO Rojas di Ronde ke-2 di Debut UFC
Rekan Seperguruan Islam Makhachev Hancurkan Tracy Reeder di Ronde Pertama