Mati karena Bencana di Sumut, Orangutan Tapanuli Makin Rawan
Melansir berbagai sumber, Senin (15/12/2025), adalah kenyataan ketika tim SAR menemukan bangkai orangutan Tapanuli di sisa banjir Sumut.
Baca Juga:
- Meriahta: Jangan Hanya Minta Maaf, Kasus Dugaan Keracunan MBG di Karo Harus Diusut Tuntas
- Serukan Aksi Nyata Bencana NTT dan Sumatera, Bahlil Lahadalia Imbau OKP Karya Kekaryaan Dukung Pemerintah Bantu Korban Bencana
- Satgas PRR Percepat Relokasi Sekolah Terdampak Bencana, Administrasi dan Konstruksi Berjalan Paralel
Bangkai orangutan Tapanuli ditemukan di sisa banjir kawasan Batang Toru, Tapanuli Tengah, Sumut, pada Kamis, 11 Desember lalu.
"Kehilangan satu orangutan saja merupakan pukulan besar bagi kelangsungan hidup spesies ini," kata Panut Hadisiswoyo, pendiri dan Ketua Orangutan Information Centre Indonesia, Senin (15/12/2025).
Analisis citra satelit yang dikombinasikan dengan data sebaran orangutan Tapanuli menunjukkan bahwa banjir besar bulan lalu tidak hanya menewaskan manusia, tetapi juga menghancurkan habitat satwa liar di wilayah Batang Toru.
Para ilmuwan memusatkan perhatian pada West Block, kawasan dengan populasi orangutan Tapanuli terpadat dari tiga habitat yang diketahui.
Sebelum bencana, wilayah ini diperkirakan dihuni sekitar 581 orangutan tapanuli.
"Kami memperkirakan antara enam hingga 11 persen populasi orangutan kemungkinan tewas akibat banjir," jelas Erik Meijaard, pakar konservasi orangutan.
Sebagai informasi, bangkai orangutan tersebut ditemukan di antara gelondongan kayu yang terseret banjir oleh tim SAR dan sudah dikuburkan.
"Terkait temuan bangkai orangutan di Pulo Pakkat, pada Kamis, 11 Desember 2025 kemarin sudah kami evakuasi, rawat, dan kuburkan di Bidang KSDA wilayah III Padangsidimpuan," ujar Kepala Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan, Susilo AW.
Tentu saja penemuan itu kembali menarik sorotan publik tentang perlindungan dan konservasi satwa endemik di Indonesia.
Orangutan merupakan salah satu satwa paling langka di Indonesia. Orangutan Tapanuli masuk daftar sangat terancam punah pada 2017.
Saat ini jumlah populasi orangutan tapanuli diperkirakan hanya berkisar antara 577 hingga 760 individu.
Angka tersebut menjadikan mereka sebagai spesies kera besar paling langka di dunia.
Secara alami, orangutan Tapanuli lebih banyak menghuni hutan dataran tinggi. Namun, berbagai studi menunjukkan bahwa luas kawasan hutan tempat mereka hidup terus berkurang.
Akibatnya, banyak orangutan terpaksa menempati wilayah yang bukan merupakan habitat alaminya.
Meriahta: Jangan Hanya Minta Maaf, Kasus Dugaan Keracunan MBG di Karo Harus Diusut Tuntas
Serukan Aksi Nyata Bencana NTT dan Sumatera, Bahlil Lahadalia Imbau OKP Karya Kekaryaan Dukung Pemerintah Bantu Korban Bencana
Satgas PRR Percepat Relokasi Sekolah Terdampak Bencana, Administrasi dan Konstruksi Berjalan Paralel
HUT ke-81 RI, Sugiat Santoso Ajak Kader Gerindra Sumut Siapkan Diri Menuju Indonesia Emas 2045
PDIP Sumut Rayakan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Rapidin Simbolon Tekankan Kerja Kerakyatan