Melalui Semarak Budaya, FJPI Angkat Performance Journalism di Hari Kebebasan Pers Sedunia
Acara Semarak Budaya bertema 'Dari Ruang Redaksi ke Panggung Teater: Merawat Kebebasan Pers Lewat Seni' ini sekaligus sebagai refleksi peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia.
Baca Juga:
Ketua Umum FJPI Khairiah Lubis dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi insan pers di tengah menurunnya indeks kebebasan pers di Indonesia. Dalam tiga tahun terakhir, peringkat kebebasan pers Indonesia mengalami penurunan dari posisi 108 pada 2023 menjadi 129 pada 2026 dari total 180 negara. Kondisi ini juga diwarnai dengan meningkatnya ancaman dan teror terhadap jurnalis, termasuk jurnalis perempuan.
"Momentum Hari Kebebasan Pers Sedunia menjadi pengingat bagi kita semua untuk melihat sejauh mana kebebasan berekspresi dapat dijalankan tanpa tekanan dan tanpa praktik self-censorship," ujarnya, Senin (4/5/2026).
FJPI mencoba menghadirkan alternatif penyampaian informasi melalui seni dan budaya, salah satunya teater. Pendekatan ini dinilai mampu menyampaikan pesan jurnalistik secara lebih kreatif, menyentuh emosi, sekaligus menjadi sarana edukasi yang hidup bagi masyarakat.
Sejak 2024, FJPI telah mengembangkan konsep ini, termasuk mengangkat isu beban ganda jurnalis perempuan. Pada Maret 2026, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, FJPI juga menggelar pementasan teater bertema bencana yang hasil penjualan tiketnya disalurkan untuk membantu masyarakat di Aceh Tamiang dan Tapanuli Tengah.
Khairiah juga mengucapkan apresiasi dan terima kasih kepada Sofyan Tan atas dukungan yang konsisten terhadap kegiatan FJPI, termasuk dalam terselenggaranya kegiatan Semarak Budaya.
"Terima kasih kepada Bapak Sofyan Tan yang telah memberikan kesempatan dan dukungan penuh terhadap kegiatan Semarak Budaya ini. Dukungan ini sangat berarti bagi kami untuk terus bergerak menghadirkan ruang-ruang kreatif bagi jurnalis, khususnya jurnalis perempuan," ujar Khairiah.
Sementara itu, Sofyan Tan, Anggota Komisi X DPR RI menyampaikan pentingnya peran pendidikan dalam mengubah kondisi sosial masyarakat, termasuk mengentaskan kemiskinan.
"Saya memang seorang dokter, tetapi ingin berjuang mengubah manusia dari kemiskinan melalui pendidikan," ujarnya.
Ia juga mengapresiasi penampilan pembacaan puisi oleh Rindy Riyani pada pembukaan acara. Bahkan, Sofyan Tan secara langsung menawarkan kesempatan kepada Rindy untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi Setya Bhinneka melalui program beasiswa KIP.
Kesempatan sama, Ketua Medan Teater Tronik, Hafiz Taadi, turut menyoroti kesamaan antara dunia teater dan jurnalistik. Ia menyebut keduanya memiliki "dua mata pisau" sebagai alat untuk membedah realitas.
"Dunia teater dan dunia jurnalis sama-sama memiliki pisau bedah untuk mengupas realitas, hanya cara penyampaiannya yang berbeda," ungkapnya.
Zamatra AI Fest, Hidupkan Sejarah Sumatra Kuno dengan AI, Bayu Ungkap Inovasi Teater Visual
Diskusi Hari Kartini, FJPI Bahas Ancaman Kekerasan dan Pembatasan Kebebasan Pers Jurnalis Perempuan
Ketika Data Menjadi Air Mata, Kolaborasi Jurnalis dan Seniman Hadirkan Teater Kemanusiaan di Medan
Ratusan Gen Z akan Raba, Belai dan Cium Rempah di Spektakel Lidah Gen Z
Jurnalis Perempuan Naik Panggung, Angkat Luka Bencana Lewat Teater Kemanusiaan