Senin, 02 November 2026

H Albiner Sitompul : Mengetuk Pintu Langit Demi Kedamaian Bangsa

Ikhtiar Spiritual di Tengah Dinamika Ketatanegaraan dan Polarisasi Publik
Efendi Jambak - Senin, 02 November 2026 18:00 WIB
H Albiner Sitompul : Mengetuk Pintu Langit Demi Kedamaian Bangsa
Teks foto : Tokoh masyarakat, H Albiner Sitompul. (Efendi Jambak)

Kitakininews.co.id -Di tengah hiruk-pikuk dinamika ketatanegaraan dan menguatnya polarisasi opini publik belakangan ini, ada satu hal mendasar yang semestinya tidak boleh terlupakan, bahwa di atas segala perbedaan pandangan, kepentingan politik, dan pertarungan argumentasi, terdapat kepentingan yang jauh lebih besar. Yakni keselamatan bangsa, kedamaian masyarakat, dan keutuhan persaudaraan antar sesama anak bangsa.

Baca Juga:

Seorang tokoh masyarakat, H Albiner Sitompul dari Tapiannauli, Tukka, Tapanuli Tengah (Tapteng) ingin mengajak seluruh elemen bangsa untuk sejenak menarik napas, menenangkan pikiran, dan kembali merenungkan hakikat tertinggi dari kehidupan bernegara. Bernegara bukan semata-mata tentang siapa yang menang dalam perdebatan, siapa yang paling kuat dalam mempertahankan pendapat, atau siapa yang berhasil memenangkan kepentingan kelompoknya.

Lebih dari itu katanya, bernegara adalah ikhtiar bersama untuk menghadirkan keadilan, ketenteraman, kesejahteraan, dan masa depan yang lebih baik bagi seluruh rakyat Indonesia. Konstitusi, lembaga peradilan, dan berbagai mekanisme hukum merupakan instrumen penting dalam menjaga kehidupan demokrasi dan ketatanegaraan.

Namun, hukum formal tidak seharusnya hanya dipandang sebagai arena untuk saling berhadapan dan mempertahankan ego masing-masing. Hukum semestinya menjadi jalan untuk menemukan keadilan, menghadirkan kepastian, sekaligus membuka ruang rekonsiliasi.

Dalam tradisi pemikiran hukum dikenal sebuah adagium Latin, Salus Populi Suprema Lex Esto, yang berarti keselamatan dan kesejahteraan rakyat hendaknya menjadi hukum yang tertinggi. Prinsip ini mengingatkan kita bahwa segala keputusan dan kebijakan kenegaraan pada akhirnya harus bermuara pada kepentingan rakyat, bukan semata-mata pada kemenangan politik ataupun kepentingan kelompok tertentu.

Lantas, bagaimana jika berbagai jalan penyelesaian yang tersedia seolah menemui kebuntuan? Bagaimana jika perbedaan pandangan semakin melebar, sementara ruang dialog semakin menyempit?

Dalam keterbatasan sebagai warga negara, saya percaya masih ada satu ikhtiar yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu mengetuk pintu langit melalui doa dan memohon petunjuk Tuhan Yang Maha Esa.

"Ada sebuah harapan sederhana yang ingin saya titipkan kepada bangsa ini. Semoga Tuhan membukakan jalan keluar melalui imajinasi, kejernihan hati, dan kebijaksanaan yang dituntun oleh-Nya, sehingga umat-Nya dapat kembali berdamai dan bangsa ini terhindar dari perpecahan," ungkap Albiner Sitompul.

Lanjut Albiner, doa tersebut bukan berarti menyerahkan seluruh persoalan kepada keadaan tanpa melakukan usaha. Sebaliknya, doa merupakan ikhtiar batin yang harus berjalan beriringan dengan ikhtiar rasional, dialog kebangsaan, penghormatan terhadap konstitusi, serta keberanian mengambil keputusan yang bijaksana.

"Kita berharap para pemimpin negara, para hakim, para wakil rakyat di parlemen, serta seluruh pemangku kepentingan dianugerahi kejernihan hati, keluasan pandangan, dan daya cipta yang luhur. Sebuah imajinasi kenegarawanan yang tidak hanya terpaku pada kebuntuan prosedural, tetapi mampu menemukan jalan keluar yang bermartabat, konstitusional, adil, dan mendamaikan," jelasnya.

Sebab katanya, terkadang bangsa tidak hanya membutuhkan kecerdasan untuk membaca persoalan, tetapi juga kebijaksanaan untuk menemukan jalan keluar. Tidak hanya membutuhkan keberanian untuk mempertahankan prinsip, tetapi juga kelapangan hati untuk membangun titik temu.

Terobosan hukum dan politik yang lahir dari kebijaksanaan sebut Albiner, bukan dari ambisi atau tekanan kepentingan, akan menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas nasional. Jangan sampai kegaduhan yang seharusnya dapat diselesaikan melalui dialog dan kebijaksanaan justru menguras energi bangsa, mengganggu kehidupan masyarakat, serta menjauhkan kita dari agenda besar pembangunan dan kesejahteraan rakyat.

"Pada akhirnya, rakyat di akar rumput tidak menginginkan bangsa ini terus-menerus terjebak dalam pertentangan. Rakyat membutuhkan kehidupan yang aman, pekerjaan yang layak, pendidikan yang berkualitas, pelayanan publik yang baik, serta kepastian bahwa masa depan anak-anak mereka berada dalam keadaan yang lebih baik," katanya.

Karena itu ajaknya, mari sudahi segala kegaduhan yang tidak produktif. Mengembalikan energi bangsa untuk merajut persatuan, memperkuat persaudaraan, dan membangun kesejahteraan bersama.

"Kita boleh berbeda pandangan, tetapi jangan kehilangan persaudaraan. Kita boleh berbeda pilihan, tetapi jangan mengorbankan persatuan. Dan kita boleh berselisih dalam mencari kebenaran, tetapi jangan pernah kehilangan kerendahan hati di hadapan Tuhan Yang Maha Esa," tambahnya.

Sebab pada akhirnya, kebesaran sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kekuatan konstitusi dan kemajuan pembangunannya, tetapi juga dari kemampuannya menjaga perdamaian di tengah perbedaan.

"Mari mengetuk pintu langit, sembari terus berikhtiar di bumi, demi kedamaian dan keselamatan bangsa Indonesia," pungkas Albiner Sitompul.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: M Iqbal
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Kapolres Langkat Temui MUI Untuk Rayu Pintu Langit

Kapolres Langkat Temui MUI Untuk Rayu Pintu Langit

Berurai Air Mata Saat Haji Albiner Sitompul Diupah-upah

Berurai Air Mata Saat Haji Albiner Sitompul Diupah-upah

Komentar
Berita Terbaru