Dominasi Selayang di Lapangan Petanque, Emas Meluncur Tepat Sasaran!
Baca Juga:
Selayang berhasil mengumpulkan dua medali emas, satu perak, dan satu perunggu, menempatkan mereka di puncak klasemen. Emas Selayang disumbangkan oleh pasangan Nasrulloh–Claudius Samuel Malau di nomor double man, serta trio Aulia, Mutiara, dan Kyran di nomor triple putri.
"Capaian ini membuktikan kerja keras para atlet Selayang yang tampil stabil dari awal hingga akhir," ujar salah satu pelatih Selayang dengan wajah bangga seusai pertandingan.
Kecamatan Medan Labuhan harus puas di posisi runner-up, meski juga mengantongi dua emas dan tiga perunggu. Dua emas Labuhan datang dari nomor single putra dan triple putra. Sementara posisi ketiga ditempati Medan Perjuangan, Medan Deli, dan Medan Timur, yang masing-masing menyumbang satu medali emas.
Ketua KONI Kota Medan, Aswindy Fachrizal, SE, yang membuka pertandingan di hari pertama, memberikan apresiasi tinggi atas antusiasme para atlet muda.
"Cabor petanque di PON 2024 lalu sudah menyumbang satu emas. Hasil Porkot ini harus jadi barometer sekaligus motivasi bagi atlet agar bisa terus berprestasi," tutur Aswindy.
Di hadapan Ketua STOK Bina Guna, Dr. dr. Liliana Puspa Sari, SPd, MKes, Aswindy menegaskan bahwa hasil Porkot merupakan langkah awal pembinaan menuju prestasi lebih tinggi di tingkat provinsi maupun nasional.
Sementara itu, Ketua Panitia Bobby Helmi menyampaikan bahwa cabor petanque tahun ini diikuti 158 atlet dari berbagai kecamatan dengan mempertandingkan tujuh nomor, yaitu: single putra, single putri, double putra, double putri, triple putra, triple putri, dan double mix.
AHY Tinjau Sekolah Rakyat Medan Bernilai Rp250 Miliar di Medan
Sasar Sektor Kuliner Medan, PGN Jamin Pasokan Gas Bumi ke Restoran Savo Dine & Chill
Rakernas XVIII APEKSI Diproyeksikan Putar Ekonomi Kota Medan hingga Rp72,3 Miliar
HUT ke- 436 Medan, Rico Waas Ajak Semua Pihak Bersinergi Wujudkan Medan Bertuah dan Tinggalkan Legasi Terbaik
Sambut HUT Kota Medan ke- 436, Rico Waas Pimpin Ziarah Makam Pahlawan dan Ajak Generasi Muda Maknai Perjuangan Masa Lalu