Yayasan Sultan Iskandar Muda dan Prof. Dr. Nur A. Fadhil Lubis, MA (alm)
Kitakini.news - "Siapa Professor yang sangat concern pada Multikulturalisme dan Toleransi itu Pak" ?. Beliau telah wafat beberapa tahun lalu " Pak Sofyan Tan mengarahkan pertanyaan itu kepada saya, setelah kami berbincang ringan pada acara Israk Mikraj di Yayasan Perguruan SIM minggu 25 Januari 2026.
Baca Juga:
Saya lihat beliau berupaya mengingat sebuah nama yang sesungguhnya sangat dekat dengan kesadaran batinnya. Tanpaknya ia tak berhasil mengingat nama itu dalam waktu singkat. Mungkin masanya sudah sangat jauh. Spontan saya sebut, Prof. Fadhil Lubis, Pak Tan. 'Ha Iya, ! Prof. Fadhil Lubis. Lalu saya lanjutkan memberi keterangan, Sekarang istrinya Prof. Dr. Nurhayati, M. Ag yang menjadi Rektor UIN SU Medan Pak. Untuk yang kedua kalinya, ia terkejut.
"Saya belum berjumpa dengan beliau", kata pak Tan.
Saya sebenarnya menunggu lanjutan dari pertanyaan Pak Tan tentang Prof. Fadhil. Bersamaan dengan itu, pagelaran seni anak-anak TK, SD, SMP, SMU Yayasan Perguruan SIM terus berlangsung. Sesekali kami tersenyum. Melihat penampilan anak-anak tersebut. Saya merasa ini bukan di YPSIM. Tetapi di Pesantren atau paling tidak di Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah. Anak-anak YPSIM sangat mahir melantunkan shalawat dan musikalisasi puisi yang bertaut dengan Israk Mikraj.
Pak Tan bercerita. Dulu, sewaktu sekolah ini baru di buka, kira-kira masih sederhana dengan 7 kelas. Saya sudah mengenal Prof. Fadhil dengan pikiran dan wawasannya yang bagi saya luar biasa. Sebenarnya wajar saja karena Prof. Fadhil lulusan UCLA university kampus ternama di Amerika Serikat. Namun agaknya yang membuat Pak Tan kagum karena pemikiran Prof. Fadhil sebagai alumni Madrasah, alumni IAIN SU Medan tidak biasa.
Pemikirannya tentang multicultural, pluralitas, kerukunan, toleransi dan juga isu-isu gender, yang memang kala itu tidak banyak dimiliki sarjana-sarjana agama, membuat Prof. Fadhil berbeda. Andaipun ingin disebut nama, Guru besar IAIN.SU yang concern pada isu kerukunan umat beragama kala itu Prof. M. Ridwan Lubis yang sekarang melanjutkan pengabdiannya di UIN Jakarta. Sebelumnya beliau pernah menjadi Dekan Fakultas Ushuluddin. Pak Rdiwan juga cukup dikenal di Masyarakat terutama tentang KUB (Kerukunan Umat Beragama).
Masih menurut Pak Tan, ketika ia ingin memilih guru-guru agama, Pak Tan meminta Prof . Fadhil untuk ikut menyeleksi guru-guru tersebut. Sesuai dengan Visinya, guru agama Islam juga sejatinya memiliki pemikiran yang terbuka, inklusif, mampu menghargaan perbedaan dan keberagaman dan juga memiliki visi kemanusiaan yang kuat. Saya percaya, Prof. Fadhil bukan sekedar menyeleksi guru-guru agama Islam sesuai dengan keinginan YPSIM. Tetapi Prof. Fadhil juga ikut meletakkan dasar-dasar konseptual bagaimana sekolah dengan semangat pluralitas, multiklutural dengan penghargaan yang tinggi terhadap Keragaman dan perbedaan bisa mengakar kuat di YPSIM.
Mendiktisaintek Resmikan Universitas Satya Terra Bhinneka, Wakil Wali Kota Medan Berharap Jadi Jembatan Sukses Anak Kurang Mampu
Menteri Prof Brian: ST Bhinneka Kampus Monumental
Roadshow Bulan Bung Karno, Sofyan Tan Bangkitkan Nasionalisme Pelajar
Presma UIN Syahada Desak Pemerintah Investigasi Terbuka Soal Kematian Siswi SPPI KDMP
Perjuangan Sofyan Tan Berhasil, Pemerintah Siapkan Rp1,8 Triliun untuk PTS