Batu di Kota Bruges Belgia Jadi Oleh-oleh
Namun, turis yang mengunjungi Kota Bruges, kota tua nan indah di Belgia, berpikir lain. Mereka mengutipi batu dan benda lain di kota itu dan menjadikannya oleh-oleh.
Baca Juga:
- Ketika Kesetaraan Gender di Medan Tak Sekadar Wacana Romantisme Belaka
- Rico Waas Tegaskan Rekomendasi DPRD Jadi Momentum Perkuat PAD dan Tertibkan Aset Daerah, Minta Sekda dan OPD Tindaklanjuti dengan Serius
- HUT ke-28 PAN, Yahdi Khoir Apresiasi Perhatian Gubsu Terhadap Perbaikan Infrastruktur di Batubara
Melansir berbagai sumber, Kamis (22/5/2025), anggota dewan Kota Bruges, Franky Demo, pun mendesak turis untuk berhenti mengambil batu bulat dari jalan-jalan kota untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
"Silakan tinggalkan batu-batu ini di tempatnya," tegasnya.
Franky Demo menyebut tindakan turis-turis itu menunjukkan rasa tidak hormat yang besar terhadap Kota Bruges.
Sebagai informasi, Bruges adalah kota tua yang merupakan situs Warisan Dunia UNESCO.
Di kota itu ada tempat-tempat lokal ikonik seperti Vismarkt, Minnewater, Grand Palace, dan Museum Grutthuse yang tampaknya kehilangan antara 50 dan 70 batu bulat setiap bulan.
Meskipun angka itu mungkin tidak terdengar terlalu gila, tapi ada dua alasan mengapa itu menjadi masalah.
Yang pertama adalah fakta sederhana bahwa hal itu merusak warisan kota.
"Kami tidak meminta apa pun selain rasa hormat. Berjalan di Bruges berarti menginjak sejarah berabad-abad," kata Franky Demo.
Selain itu, ada juga biaya untuk memperbaikinya. Tidak hanya celah yang ditinggalkan oleh batu yang hilang bisa membahayakan pejalan kaki, tetapi mengisinya kembali membutuhkan biaya sekitar 200 euro atau sekitar Rp3,7 juta per meter persegi.
Ini bukan pertama kalinya turis kena tegur karena mengambil sesuatu yang bukan milik mereka dari kota yang dikunjungi.
Pihak berwenang di Sardinia baru-baru ini mengenakan denda 3.000 euro bagi pengunjung yang mengambil pasir dari pantainya.
Faktanya, tempat-tempat populer di seluruh dunia telah mengumumkan peraturan untuk menindak perilaku turis yang tidak sopan dalam beberapa tahun terakhir.
Kejadian terkait perilaku turis yang dianggap tak beretika juga pernah terjadi di Kota Amsterdam, Kota Praha, dan Kota Kyoto.
Ketika Kesetaraan Gender di Medan Tak Sekadar Wacana Romantisme Belaka
Rico Waas Tegaskan Rekomendasi DPRD Jadi Momentum Perkuat PAD dan Tertibkan Aset Daerah, Minta Sekda dan OPD Tindaklanjuti dengan Serius
HUT ke-28 PAN, Yahdi Khoir Apresiasi Perhatian Gubsu Terhadap Perbaikan Infrastruktur di Batubara
PQN Medan DigiFest 2026 Resmi Dibuka, Rico Waas Andalkan QRESTO untuk Perkuat Digitalisasi Pajak
Car Free Night Kesawan Dorong Ekonomi UMKM, Rico Waas Perkuat Ekosistem Wisata Kota Medan