Rakyat Makin Terjepit, BBM Masih Langka, Harga Ayam dan Telur di Sumut Meroket Lagi!
Kitakininews.co.id - Beban hidup masyarakat Sumatera Utara (Sumut) kian berat. Belum usai persoalan kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang memicu antrean mengular di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), kini komoditas pangan utama—daging dan telur ayam—turut melanjutkan tren kenaikan harga yang signifikan.
Baca Juga:
Dapur rumah tangga warga kini dihantam dua masalah sekaligus, obilitas yang terhambat akibat sulitnya mendapatkan bahan bakar, dan isi dompet yang kian tergerus untuk memenuhi kebutuhan protein harian.
Ketua Tim Pemantau Harga Pasar Sumut, Gunawan Benjamin mengungkapkan berdasarkan pantauan di lapangan, harga daging ayam potong di pasar tradisional kini telah kembali ke "mode harga normal" setelah sempat anjlok selama masa liburan sekolah.
"Di Pasar Tradisional Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, pergerakan harga mencatat fluktuasi yang tajam," tuturnya, Kamis (16/7/2026).
Dia mengungkapkan pertengahan Juni, harga daging ayam sempat menyentuh Rp35.000 per Kg. Kemudian akhir Juni merosot ke level terendah Rp28.000 per Kg. "Kondisi ini terjadi akibat ditutupnya dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur sekolah," ungkapnya.
Lalu pertengahan Juli, harga daging ayam berbalik naik tajam sebesar 21,5% dari posisi terendahnya, kini ditransaksikan di kisaran Rp34.000 per Kg.
Kenaikan yang jauh lebih ekstrem terlihat di wilayah kepulauan. Mengacu pada data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga daging ayam di Gunung Sitoli bahkan meroket hingga menembus Rp51.500 per Kg.
Harga Telur Ayam Mengekor Naik
Setali tiga uang dengan daging ayam, harga telur ayam di Kota Medan juga mengalami lonjakan dalam sepekan hari kerja terakhir.
Data PIHPS Kota Medan menunjukkan pergeseran harga di Pasar Petisah. Pekan lalu, telur ayam dihargai Rp24.600 per Kg (kisaran Rp1.538 per butir). Harga saat ini adalah Rp27.600 per Kg (kisaran Rp1.725 per butir).
"Secara rata-rata, kenaikan ini mencapai sekitar Rp200 per kilogram. Sama seperti daging ayam, penggerak utama kenaikan harga telur ini adalah kembali aktifnya permintaan pasokan untuk dapur-dapur program MBG seiring dimulainya tahun ajaran baru dan terlewatinya bulan Muharram," ungkap dia.
Berbeda dengan komoditas hortikultura seperti cabai atau bawang yang harganya sangat bergantung pada fluktuasi cuaca (supply volatile), komoditas daging dan telur ayam memiliki pasokan yang cenderung konstan setiap harinya. Oleh karena itu, lonjakan harga saat ini memang paling mudah dibaca sebagai akibat dari lonjakan permintaan.
Meski secara statistik kenaikan harga saat ini didominasi oleh faktor permintaan, sambungnya, kelangkaan BBM dan antrean panjang truk logistik di wilayah layanan Fuel Terminal Medan dipastikan mengganggu stabilitas pola distribusi peternakan ke pasar.
Potensi pembengkakan Harga Pokok Penjualan (HPP) sangat mungkin terjadi jika armada pengangkut terpaksa mengantre berjam-jam atau beralih menggunakan BBM non-subsidi demi mengejar waktu. "Karenanya, pemerintah dan Pertamina harus menyadari bahwa lambatnya penanganan distribusi BBM berisiko menjadi "bahan bakar" baru bagi lonjakan inflasi pangan di Sumatra Utara," tutur Gunawan.
Ronggur Raja Doli Desak Investigasi Pertamina dan Elnusa Terkait Krisis BBM di Sumut
Kelangkaan BBM di Sumut Diduga Dipicu Penyelewengan Distribusi
Jusup Ginting: Pertamina Harus Segera Pastikan Kapan Berakhirnya Antrean BBM di Medan
Antrean SPBU di Medan, Gubernur Bobby Nasution Sebut Ada Pemberhentian Massal Silopir Tangki
Jerit Warga Sumut Langka BBM, Benarkah Dampak PHK Massal Sopir Tangki? Ini Jawaban Pertamina