Tersangka Kasus Jaka Malau Beberkan Kronologi: Saya Ditikam Lebih Dulu
Kitakini.news -Anggota ormas yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kematian Jaka Jannes Malau, Ronaldo Siburian mengungkap awal mula kejadian pengeroyokan yang menyebabkan korban tewas.
Baca Juga:
Pengakuan diungkap Ronaldo lewat sebuah video pernyataannya yang beredar luas di sosial media, bersamaan dengan penyerahan diri Ronaldo ke Polres Pematangsiantar, pada Sabtu (20/6/2026).
Ronaldo kini ditahan bersama dua tersangka lainnya, Frengki Silaen dan Roitnandah Panjaitan yang lebih dulu menyerahkan diri kepada kepolisian pada 1 Juni 2026.
Polisi menetapkan enam orang sebagai tersangka dalam insiden maut yang terjadi di kawasan ruang terbuka hijau (RTH) yang dikenal dengan Taman Bunga, yang berhadapan dengan Kantor Wali Kota Pematangsiantar. Peristiwa terjadi pada 28 Mei 2026, malam hari.
Dalam pengakuannya, Ronaldo menyampaikan akar permasalahan bermula dari dugaan pemerasan yang dialami adiknya Hengki Hutahaean oleh seorang tukang tato (Marten Haloho) di kawasan Taman Bunga, sehari sebelum peristiwa penganiayaan.
"Kronologi kejadian bermula ketika Hengki datang ke Taman Bunga untuk membuat tato temporer dengan kesepakatan harga Rp3.000 per sentimeter. Namun, usai pembuatan tato, adik saya ditagih biaya sebesar Rp900.000. Karena merasa terancam, Hengki menyerahkan seluruh uang tunai yang dimilikinya, yakni Rp300 ribu," kata dia mengawali pengakuannya.
Mendengar pengaduan Hengki, Ronaldo mengaku akan membantu menyelesaikan masalah di kemudian hari, terlebih karena hari sudah gelap.
Keesokan harinya, 28 Mei 2026, Hengki memberi tahu Ronaldo kalau tukang tato telah berkumpul kembali di lokasi, Ronaldo beserta beberapa teman berangkat menuju Taman Bunga. Mereka menggunakan mobil Daihatsu Sigra berstiker ormas Ikatan Pemuda Karya.
"Kami membawa tukang tato (Marten) untuk bertemu dengan Hengki di area Taman Hewan. Dalam pertemuan itu, tercapai kesepakatan bahwa tukang tato akan mengembalikan sebagian uang dalam waktu satu minggu," kata dia.
Sekembalinya mengantarkan pria pembuat tato ke Taman Bunga, almarhum Jaka dan seorang temannya menyambut mereka. Jaka dilaporkan marah karena melihat temannya (tukang tato) dibawa pergi hingga terkesan menantang Ronaldo.
"Saya lalu turun dari mobil untuk menemuinya dan saya menyuruh teman-teman saya pergi. Tiba-tiba Jaka menusuk saya dengan senjata tajam (sajam) di leher, belakang (punggung) dan bawah bibir saya. Sajam itu terikat pada tangan Jaka, berbentuk seperti cincin yang ada ujungnya," ujarnya.
Dalam situasi itu, Ronaldo berteriak tolong hingga didengar temannya yang baru jalan beberapa meter dari lokasi. Rombongan ini berusaha melemahkan Jaka sambil melucuti senjata tajam di tangan korban.
Setelah senjata berhasil dilepaskan, mereka berniat membawa Jaka ke Polres Pematangsiantar untuk diselesaikan secara hukum. Namun, di dalam mobil, Jaka melompat melalui jendela kendaraan hingga kembali mendapat penganiayaan.
Dalam video yang beredar, korban menerima pukulan dan tendangan sampai terkulai lemas, lalu diseret masuk ke dalam mobil dengan tubuh penuh darah.
"Mungkin karena situasi ini lah beberapa teman kembali melakukan pemukulan terhadap korban. Setelahnya korban dan saya dibawa ke Rumah Sakit Umum Pematangsiantar. Dan saya sempat dimintai keterangan oleh polisi saat dirawat rumah sakit setelah beberapa teman saya melapor ke polisi," katanya.
Keluarga Jaka Malau Minta Polisi Terbitkan DPO 4 Pelaku yang Belum Ditangkap
Sebanyak 25 Personel TNI Ditetapkan sebagai Tersangka Penyerangan Warga di Deliserdang
Polisi Amankan Tiga Orang Dalam Peristiwa Bentrokan Selambo Amplas