Minggu, 11 Oktober 2026

Efek Bencana Banjir, Ini Empat Wabah Penyakit yang Kerap Muncul

Fitri - Selasa, 09 Desember 2025 21:32 WIB
Efek Bencana Banjir, Ini Empat Wabah Penyakit yang Kerap Muncul
ig@parispernandes_
Pembagian logistik untuk korban banjir di Aceh Tamiang
Kitakini.news - Banjir dan longsor yang terjadi di Sumatra belum tertangani dengan maksimal, di saat bersamaan wabah penyakit pun mengintai.

Melansir berbagai sumber, Kamis (9/12/2025), kondisi lingkungan yang kotor, keterbatasan air bersih, serta padatnya lokasi pengungsian memang membuat masyarakat lebih rentan terkena infeksi.

Baca Juga:

"Nah, yang paling sering dari data-data, bukan hanya di Indonesia, di dunia, setelah banjir atau longsor itu, leptospirosis sekarang itu yang tinggi potensi menjadi wabah," ucap epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman.

Menurut Dicky, ini terjadi karena banjir membuat paparan manusia terhadap air kencing tikus atau hewan reservoir lainnya menjadi semakin luas.

Artinya, kontaminasi ini mempermudah penularan bakteri Leptospira ke manusia.

Ancaman berikutnya adalah penyakit berbasis fekal-oral, terutama diare, yang hampir selalu meningkat pasca banjir.

"Orang BAB atau kencing di mana saja. Kemudian fasilitas cuci tangan terbatas, juga adanya tempat pengungsian yang padat, itu yang memudahkan penularan fekal oral," tuturnya.

Kondisi lingkungan yang tercemar, sumur dangkal yang terkontaminasi air banjir, serta sanitasi darurat yang buruk menjadi pemicu utamanya.

"Dan di Indonesia, pola epidemiologisnya, setiap tahun pasca banjir, muncul peningkatan kasus diare. Dan umumnya, ini yang akhirnya memicu outbreak atau wabah yang cepat," jelas Dicky.

Pun Demam tifoid (tipes) kerap melonjak setelah banjir karena air bercampur limbah dan kotoran sehingga bakteri penyebab demam tifoid dapat menular lebih mudah.

"Kenapa ini terjadi? Karena makanan dan minuman mudah terkontaminasi oleh air banjir," ujar Dicky.

Banjir juga dapat memicu peningkatan vektor penyakit, terutama nyamuk. Genangan air yang tersisa menjadi tempat berkembang biak ideal.

Dicky menyebut, risiko demam berdarah dengue (DBD) maupun malaria biasanya muncul lebih lambat dibandingkan penyakit sebelumnya.

"Ini biasanya terjadinya satu bulan pasca bencana, jadi agak lebih lama," pungkasnya.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Banjir Padang Meluas, 498 Warga Terdampak dan 238 Jiwa Dievakuasi

Banjir Padang Meluas, 498 Warga Terdampak dan 238 Jiwa Dievakuasi

ISW Serahkan Dumas Dugaan Ijazah Palsu Oknum Anggota DPRD Pematangsiantar Inisial CL ke Bareskrim Polri

ISW Serahkan Dumas Dugaan Ijazah Palsu Oknum Anggota DPRD Pematangsiantar Inisial CL ke Bareskrim Polri

Langganan Banjir, Pemkab Deli Serdang Didesak Segera Normalisasi Drainase di Perumnas Mandala

Langganan Banjir, Pemkab Deli Serdang Didesak Segera Normalisasi Drainase di Perumnas Mandala

Petani Karo Keluhkan Melambungnya Harga Pupuk non Subsidi

Petani Karo Keluhkan Melambungnya Harga Pupuk non Subsidi

*Rico Waas Hadiri Paripurna APBD Medan 2027, DPRD Tekankan Anggaran Harus Kembali ke Rakyat*

*Rico Waas Hadiri Paripurna APBD Medan 2027, DPRD Tekankan Anggaran Harus Kembali ke Rakyat*

13.702 Keluarga Telah Menerima Bantuan Pasca Bencana Sumut

13.702 Keluarga Telah Menerima Bantuan Pasca Bencana Sumut

Komentar
Berita Terbaru