Kamis, 20 Agustus 2026

Efek Bencana di Aceh, Stasiun Penelitian Orangutan Ketambe Tutup

Fitri - Selasa, 09 Desember 2025 21:40 WIB
Efek Bencana di Aceh, Stasiun Penelitian Orangutan Ketambe Tutup
ig@leuserconservationforum
Ilustrasi, orangutan Sumatra yang terjebak di sebuah pohon
Kitakini.news - Stasiun Penelitian (SP) Orangutan Ketambe terpaksa ditutup. Ini akibat bencana banjir bandang dan longsor di Provinsi Aceh sejak 26 November lalu.

Melansir berbagai sumber, Kamis (9/12/2025), stasiun penelitian ini sejatinya sudah beroperasi sejak 1971 dan dikenal sebagai pusat studi orangutan Sumatra.

Baca Juga:

"Kementerian Kehutanan menegaskan komitmennya untuk memulihkan stasiun sebagai pusat penelitian orangutan Sumatra," bunyi keterangan Forum Konservasi Leuser (FKL).

Ceritanya, bencana banjir bandang terjadi di lokadi itu pada Kamis (26/11/2025).

Air mulai naik sekitar pukul 11.00 WIB. Staf di lokasi, yang saat itu sedang membangun musala, sempat mencoba membuat penghalang, namun kondisi memburuk dengan cepat.

Menjelang sore, sekitar pukul 16.00 WIB, air sungai menerobos masuk dengan cepat dan deras.

Juru masak dan tukang bangunan, serta empat petugas yang berada di lokasi, berhasil menyelamatkan diri dari arus deras dan dievakuasi ke Desa Ketambe.

"Meskipun kerusakan besar terjadi, empat petugas yang berada di lokasi selamat setelah berhasil menyelamatkan diri dari derasnya arus," tambah keterangan itu.

Ketika diperiksa keesokan harinya, seluruh sarana dan prasarana di SP Ketambe ludes tersapu banjir.

Kerusakan total melanda ruang pertemuan, ruang pustaka, kamar peneliti, musala, dapur umum, fasilitas air bersih, hingga kereta gantung penyeberangan.

Sebagai informasi, SP Orangutan Ketambe terletak di kawasan Resort Lawe Gurah, Aceh Tenggara.

SP Orangutan Ketambe didirikan sejak 1971 oleh Pusat Penelitian Primata (PPA), Kementerian Kehutanan, dan WWF, merupakan stasiun penelitian orangutan tertua di dunia.

Sejak 2015, SP Ketambe dikelola bersama oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) dan FKL.

Selama lebih dari lima dekade beroperasi, SP Ketambe telah mempublikasi ribuan tulisan ilmiah dan melahirkan sederet pakar konservasi terkemuka, menjadikannya institusi yang berpengaruh di mata global.

Di antara tiga stasiun penelitian yang dikelola BBTNGL, SP Ketambe menjadi yang paling parah kerusakannya akibat banjir dan longsor.

Akibat kerusakan parah tersebut, SP Orangutan Ketambe terpaksa ditutup sementara waktu hingga proses pemulihan pascabencana selesai.

Penutupan ini berlaku untuk seluruh kegiatan penelitian maupun kunjungan, demi keselamatan bersama.

Penutupan SP Ketambe merupakan pukulan besar, khususnya bagi dunia ilmiah dan konservasi global.

Pemerintah pun mengajak para peneliti dan mitra konservasi untuk tetap berkoordinasi dan menyesuaikan rencana kerja lapangan.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Fraksi Dante Desak Pemprovsu dan APH Tutup Aktivitas Tambang Ilegal di Dairi

Fraksi Dante Desak Pemprovsu dan APH Tutup Aktivitas Tambang Ilegal di Dairi

Banjir Terjang Padang, Tiga Kecamatan Terdampak, Evakuasi Terus Berlangsung

Banjir Terjang Padang, Tiga Kecamatan Terdampak, Evakuasi Terus Berlangsung

Dugaan Korupsi Jembatan Air Hitam Rp31,6 M, Polda Riau Geledah Dinas PUPR Rokan Hilir

Dugaan Korupsi Jembatan Air Hitam Rp31,6 M, Polda Riau Geledah Dinas PUPR Rokan Hilir

Warga Bonalumban Temukan Kerangka Manusia, Diduga Korban Banjir Bandang di Tukka

Warga Bonalumban Temukan Kerangka Manusia, Diduga Korban Banjir Bandang di Tukka

Begini Cara Bikin Ikan Asin Tidak Terlalu Asin, Patut Dicoba

Begini Cara Bikin Ikan Asin Tidak Terlalu Asin, Patut Dicoba

Minum Air Lemon di Pagi Hari Bukan Sekadar Tren, Ini Manfaatnya bagi Kesehatan

Minum Air Lemon di Pagi Hari Bukan Sekadar Tren, Ini Manfaatnya bagi Kesehatan

Komentar
Berita Terbaru