Status Siaga Ditetapkan di Gunung Sinabung, Jarak Pandang Hanya 10 Meter di Berastagi
Kitakininews.co.id -Pagi yang semula berjalan normal bagi Jepa (46) dan ribuan warga Kabupaten Karo lainnya, seketika berubah tegang saat hujan abu vulkanik perlahan namun pasti mulai membuat pagar atap rumah, jalanan, hingga ladang-ladang sayur kebanggaan mereka.
Baca Juga:
Tepat pukul 10.17 WIB, raksasa yang tak pernah benar-benar tertidur itu kembali menggeliat. Gunung Sinabung baru saja memancarkan material vulkanik dari perut buminya, membawa serta ancaman debu pekat yang menunggangi hembusan angin hingga ke pusat-pusat pemukiman.
"Warga sudah dihimbau pemerintah untuk kembali memakai masker jika harus keluar rumah atau ke sekolah," ujar Jepa dengan nada getir.
Di balik masker pelindungnya, tersimpan trauma dan kekhawatiran yang mendalam. Ingatannya sontak ditarik mundur pada rentetan letusan satu dekade silam yang sempat melumpuhkan urat nadi perekonomian warga. Di tanah Karo, pertanian adalah napas kehidupan.
"Mudah-mudahan dampaknya tidak meluas dan sebesar dulu," harapnya, membayangkan ladang-ladang yang terancam gagal panen jika abu dibiarkan terus menebal.
Sementara abu turun di pemukiman, ketegangan yang jauh lebih presisi terjadi di Pos Pemantauan Gunung Sinabung. Armen Purba, sang petugas pemantau, tak sedetik pun mengalihkan perhatiannya dari deretan instrumen seismik yang terus mencatat keakuratan energi dari dalam bumi. Peningkatan aktivitas vulkanik yang naik naik memaksanya bertindak cepat, mengirimkan surat peringatan dan menaikkan status gunung menjadi Siaga (Level III).
"Aktivitas gunung saat ini masih cukup tinggi," tegas Armen dihubungi, Senin (31/8/2026) petang. Jika ada kemungkinan, garis batas mematikan segera ditarik. Petugas menetapkan zona darurat merah yang haram dipijak oleh siapa pun, yakni radius 3 kilometer secara radial dari puncak kawah, dan 6 kilometer secara sektoral pada area membuka kawah yang menjadi jalur peluncuran mematikan awan panas serta guguran lahar.
Terkait detail peta desa yang paling parah tertelan abu, Armen mendelegasikan kordinasi lapangan tersebut kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karo. Fokus utama saat ini tidak bisa diganggu gugat, ia harus tetap siaga menjadi "mata dan telinga" di pos pemantauan, memastikan tidak ada satu pun sinyal bahaya lanjutan yang terlewat.
Sejak kejadian mengejutkan dari tidur lelap 400 tahunnya pada tahun 2010 silam, gunung stratovolkano setinggi 2.460 mdpl ini seolah-olah menuntut terus adaptasi tanpa henti dari masyarakat sekitar. Hujan abu yang kini menyapu Berastagi adalah alarm alam nyata.
Kini, di bawah bayang-bayang puncak Sinabung, warga perlahan-lahan masuk ke dalam rumah, membatasi aktivitas di luar ruang, dan menjaga napas mereka dari ancaman Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), sambil merapal doa agar badai kelabu ini segera berlalu.
Erupsi Sinabung, Frans Dante dan Salmon Sagala Imbau Masyarakat Kabupaten Karo Tetap Waspada
UMKM Pakpak Bharat Tembus Panggung Internasional
Salmon Sumihar: Pengutipan Parkir Rp20 Ribu di Deleng Singkut Karo Rusak Kepercayaan Wisatawan
Anaknya Kembali Dirawat Pasca Keracunan MBG Orangtua Korban Curhat ke Sutarto
Kunjungi Korban Dugaan Keracunan MBG, Sutarto Minta Investigasi Menyeluruh