Kamis, 10 September 2026

Lima Jurnalis Hilang Kontak Saat Liputan Gunung Anak Krakatau, SAR Kerahkan 7 SRU

Riswandi - Kamis, 10 September 2026 08:57 WIB
Lima Jurnalis Hilang Kontak Saat Liputan Gunung Anak Krakatau, SAR Kerahkan 7 SRU
Tim SAR menyisir perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Rabu, 9 September 2026. (Foto : Basarnas)

Kitakininews.co.id -Lima jurnalis dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Hingga Rabu 9 September 2026 sore, kelima jurnalis bersama tiga awak kapal masih belum ditemukan.

Baca Juga:

Tim SAR Gabungan memperluas operasi pencarian dengan mengerahkan tujuh Search and Rescue Unit (SRU). Penyisiran dilakukan di sejumlah titik, mulai dari perairan sekitar Pulau Sebesi, Pulau Sebuku, kawasan Krakatau, hingga Pulau Rakata dan Pulau Panjang.

Petugas juga menyisir perairan menggunakan rigid inflatable boat, yakni kapal cepat dengan lambung keras berbahan fiberglass atau aluminium.

Kasubbag Umum Basarnas Lampung, Zulkarnain Siagian, mengatakan pencarian terkendala karena tidak ada sinyal marabahaya atau distress signal yang diterima sejak komunikasi dengan rombongan terputus.

"Pada saat terjadinya musibah itu tidak ada distress, istilahnya sinyal marabahaya. Itu yang membuat kami belum bisa mendeteksi di mana posisinya," ujar Zulkarnain.

Menurut dia, posisi terakhir kapal juga belum dapat dilacak melalui telepon seluler. Karena itu, tim SAR mengandalkan penyisiran langsung berdasarkan area yang telah ditentukan dalam operasi.

"Untuk sinyal dari ponsel juga sama sekali belum ada untuk itu. Jadi, kami belum bisa mendeteksi posisi," katanya.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, mengatakan seluruh unsur SAR terus dikerahkan secara maksimal dengan memperluas area penyisiran dan mengoptimalkan sarana yang tersedia.

"Sampai saat ini hasil pencarian masih nihil. Kami tidak berhenti melakukan upaya pencarian. Setiap perkembangan di lapangan akan terus kami evaluasi untuk menentukan strategi berikutnya," kata Al Amrad.

Di tengah operasi pencarian, Gunung Anak Krakatau terpantau mengeluarkan material debu vulkanik cukup tebal. Kondisi tersebut turut menjadi perhatian karena berkaitan dengan keselamatan personel yang berada di lapangan.

Al Amrad menegaskan keselamatan seluruh petugas tetap menjadi prioritas. Operasi pencarian akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi di sekitar Gunung Anak Krakatau.

"Saat terlihat adanya material debu vulkanik yang cukup tebal, kami tetap mempertimbangkan faktor keselamatan bagi seluruh personel. Pencarian akan terus dilakukan dengan menyesuaikan kondisi di lapangan," jelasnya.

Sebelumnya, Al Amrad mengatakan rombongan berangkat menggunakan kapal cepat Arupadhatu 1 dari Dermaga Pagedongan, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB.

Kapal tersebut membawa delapan orang, terdiri dari Warta (55) sebagai kapten kapal, Surakman (60) sebagai anak buah kapal, Heriyanto (49) sebagai pemandu, serta lima jurnalis.



Lima jurnalis sebelum berangkat menuju Gunung Anak Krakatau pada Senin (07/09).


Kelima jurnalis tersebut yakni M Bagus Khoirunnas, jurnalis kantor berita Antara Biro Banten; Ari Basuki, jurnalis Merdeka.com; Yudhis, jurnalis iNews; Daus, jurnalis kantor berita Anadolu; dan Donal Husni, jurnalis lepas.

Sebelum berangkat, Bagus sempat mengirimkan foto dirinya bersama empat jurnalis lainnya dari dalam kapal kepada istrinya.

Perjalanan dari dermaga menuju Gunung Anak Krakatau diperkirakan memakan waktu sekitar dua jam.

Pada pukul 14.42 WIB, Bagus masih sempat berkomunikasi dengan jurnalis Antara Biro Lampung, Abay, yang berada di Pulau Sebesi. Bagus saat itu mengirimkan informasi mengenai lokasi terkini rombongan.

Namun, sekitar pukul 15.04 WIB, Abay kehilangan kontak dengan Bagus.

Beberapa jam kemudian, pada pukul 18.13 WIB, pemandu kapal Heriyanto sempat mengirimkan foto yang menunjukkan dirinya berada di sekitar Gunung Anak Krakatau.

Setelah itu, tidak ada lagi kabar dari awak kapal maupun kelima jurnalis tersebut.

Pada Selasa 8 September 2026 siang, pimpinan kantor berita Antara Biro Banten, Bayu Kuncahyo, melaporkan hilangnya kontak dengan salah satu pewartanya kepada Basarnas.

Setelah menerima laporan tersebut, tim SAR dari Pandeglang langsung bergerak menuju lokasi terakhir kontak rombongan.

"Tim kemudian melakukan penyisiran menuju arah Krakatau dan sejumlah wilayah perairan yang diduga menjadi lokasi keberadaan speed boat," kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad.

Polda Banten juga menyampaikan bahwa Basarnas mengerahkan kapal dan personel untuk mencari delapan orang yang hilang kontak tersebut.

Kabid Humas Polda Banten, Kombes Maruli Hutapea, mengatakan sebanyak 23 personel terlibat dalam pencarian tahap awal. Mereka terdiri dari dua personel KP Sanjaya Mabes Polri, lima personel Ditpolairud Polda Banten, dan 16 personel Basarnas Banten.

Pencarian juga didukung Kapal BasarnasKN Tetuka yang bergerak dari Dermaga Pelabuhan BBJ Bojonegara menuju wilayah perairan Carita dan selanjutnya ke lokasi pencarian.

"Kapal masih melakukan pencarian terus di laut selama tiga hari ini," kata Maruli pada Selasa 8 September 2026.

Hingga penyisiran berakhir pada Selasa 8 September 2026 pukul 22.12 WIB, tim SAR belum menemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun delapan orang yang masih dalam pencarian.

Memasuki Rabu 9 September 2026, Tim SAR Gabungan memperluas wilayah operasi dengan mengerahkan tujuh SRU. Kantor SAR Banten juga menyiapkan dua pesawat nirawak termal atau drone termal untuk membantu pencarian dari udara.

Koordinator Operasi SAR, Rizky Dwianto, mengatakan pencarian menggunakan helikopter atau pesawat belum memungkinkan karena abu vulkanikGunung Anak Krakatau masih menyebar.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Diselimuti Kabut Asap Tebal, BPBD Kota Padang Bagikan 11 Ribu Masker

Diselimuti Kabut Asap Tebal, BPBD Kota Padang Bagikan 11 Ribu Masker

Efek Erupsi Anak Krakatau, Denny Sumargo Tertahan di Surabaya

Efek Erupsi Anak Krakatau, Denny Sumargo Tertahan di Surabaya

Efek Erupsi Anak Krakatau, Arie Untung dan Istri Tak Bisa Pulang

Efek Erupsi Anak Krakatau, Arie Untung dan Istri Tak Bisa Pulang

Lima Bandara Ditutup Imbas Erupsi Anak Krakatau, Penumpang Tujuan Jakarta Menumpuk di KNIA

Lima Bandara Ditutup Imbas Erupsi Anak Krakatau, Penumpang Tujuan Jakarta Menumpuk di KNIA

Ratusan Penumpang Tujuan Jakarta Menumpuk di Bandara Kualanamu

Ratusan Penumpang Tujuan Jakarta Menumpuk di Bandara Kualanamu

Bandara Halim Perdanakusuma dan Bandara Internasional Radin Inten II Lampung Juga Ditutup Sementara

Bandara Halim Perdanakusuma dan Bandara Internasional Radin Inten II Lampung Juga Ditutup Sementara

Komentar
Berita Terbaru