BEI Sumut Ungkap Industri Pasar Modal Masih Minim SDM Bersertifikat WPPE
Kitakininews.co.id -Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumatera Utara menyoroti masih minimnya tenaga profesional yang mengantongi lisensi resmi di industri pasar modal daerah.
Baca Juga:
Saat ini, perusahaan sekuritas di Sumatera Utara (Sumut) menghadapi tantangan kelangkaan Sumber Daya Manusia (SDM) bersertifikat Wakil Perantara Pedagang Efek (WPPE).
Kepala Kantor Perwakilan BEI Sumatera Utara, Pintor Nasution, mengungkapkan bahwa ketersediaan personel berizin di tingkat daerah masih sangat terbatas untuk menjaga operasional keamanan secara optimal.
"Kami kekurangan orang bersertifikat untuk menjadi Wakil Perantara Pedagang Efek (WPPE). Rata-rata sekuritas saat ini hanya punya dua orang yang berizin," ujar Pintor kepada wartawan saat bincang dengan media, Kamis (10/9/2026).
Menurut Pintor, kondisi kelangkaan SDM ini sebenarnya menjadi peluang besar bagi para alumni perguruan tinggi, terutama lulusan Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM). Sebagai wadah edukasi pasar modal di kampus, anggota maupun lulusan KSPM dinilai sudah memiliki bekal pemahaman awal yang kuat untuk mengambil sertifikasi profesional.
Dia menjelaskan bahwa proses pengajuan lisensi saat ini sudah jauh lebih praktis. Calon profesional tidak lagi dibayangkan pada prosedur birokrasi yang rumit karena seluruh proses perizinan kini dilakukan dengan berani.
Keterbatasan pemberian SDM ini juga terlihat di wilayah luar ibu kota provinsi. Di Pematangsiantar, misalnya, keberadaan sekuritas seperti Mandiri Sekuritas dan BRI Sekuritas rata-rata hanya didukung oleh dua orang personel yang mengantongi izin resmi WPPE. Pemilik WPPE di Sumut, bilang Pintor, sekarang ini masih ada di Medan.
Lebih lanjut, Pintor menegaskan bahwa kepemilikan izin profesional tidak hanya diwajibkan bagi staf yang mengeksekusi transaksi secara langsung, tetapi juga bagi pihak yang bertindak sebagai perantara pemasaran.
"Begitu juga untuk menjadi referral, tetap butuh izin. Aturan ini penting untuk menjaga integritas industri dan memberikan perlindungan hukum bagi para investor di pasar modal," tegas Pintor.
Dalam kesempatan ini, Pintor mengungkapkan pergerakan pasar modal Indonesia menunjukkan ketahanan yang solid di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.
BEI mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat 4,64 persen secara year-to-date (ytd) dan ditutup di level 6.525,48 per 31 Agustus 2026.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, sambungnya, pasar saham memang sempat mengalami volatilitas tinggi. IHSG bergerak dinamis dari level tertinggi di kisaran 9.000 hingga sempat terkoreksi ke bawah level 4.900.
Kondisi tersebut dipicu oleh sederet sentimen global seperti arah kebijakan suku bunga acuan, ketegangan geopolitik, pergerakan harga minyak dunia, hingga dinamika transparansi yang diminta oleh MSCI. Di tingkat domestik, perhatian pasar juga menyoroti risiko fiskal dan penyesuaian regulasi.
"Meskipun ada gejolak dan respon panik di pasar, secara fundamental kinerja keuangan emiten kita tidak mengalami masalah. Volatilitas adalah hal yang wajar, dan pasar biasanya akan merespons kembali ke titik keseimbangannya seiring fundamental perusahaan yang tetap sehat," terang Pintor.
Ketahanan pasar modal ini juga tercermin dari peningkatan aktivitas perdagangan di BEI hingga akhir Agustus 2026. Nilai perdagangan atau nilai transaksi
Mencatat kenaikan sebesar 20,1 persen, frekuensi transaksi tumbuh 39,6 persen, dan volume saham yang diperdagangkan juga meningkat signifikan.
Pertumbuhan Investor Sumut Tertinggi di Luar Pulau Jawa
Di tingkat nasional, total investor pasar modal kini telah menembus 31,13 juta Single Investor Identification (SID). Tumbuh 31,14 persen dibandingkan posisi 2025 yang berada di angka 20 juta investor.
Sumatera Utara, tambah Pintor, mencatatkan kontribusi yang sangat signifikan. Per Juli 2026, jumlah investor pasar modal di Sumut tercatat mencapai 1.493.064 SID. Angka ini menempatkan Sumut sebagai wilayah dengan jumlah investor, transaksi, dan emiten terbesar di luar Pulau Jawa.
"Jika ditarik histori 14 tahun lalu pada 2012, jumlah investor di Sumut baru sekitar 15 ribu SID. Sekarang sudah menembus lebih dari 1,49 juta. Perkembangan ini membuktikan bahwa literasi dan minat masyarakat daerah terhadap pasar modal melonjak sangat tinggi," kata Pintor.
Pintor mengatakan, Kota Medan masih menjadi pusat pertumbuhan utama dengan menyumbang 396.361 SID, diikuti oleh Kabupaten Deli Serdang (202.644 SID), Kabupaten Langkat (79.797 SID), Kabupaten Simalungun (76.266), dan Kabupaten Asahan (59.252 SID).
Sementara dari sisi demografi investor di Sumut berdasarkan jenis kelamin, investor didominasi oleh investor laki-laki sebesar 63,84 persen, sementara investor perempuan mencatatkan porsi 35,38 persen.
Berdasarkan kelompok usia, tuturnya, investor muda berusia 18–25 tahun mendominasi secara kuantitas dengan porsi 33,68 persen, disusul usia 26–30 tahun sebesar 24,38 persen, dan usia 31 tahun ke atas sebesar 24,40 persen.
"Meskipun Generasi Z dan Milenial mendominasi dari segi jumlah individu, kepemilikan nilai aset terbesar masih dikuasai oleh kelompok investor senior berusia 40 tahun ke atas," tutupnya.
Investor Pasar Modal Tembus 31 Juta, ETF Emas Resmi Jadi Pilihan Investasi Baru
Harga Minyak Meroket, IHSG dan Rupiah Justru Tampil Perkasa di Zona Hijau
IHSG Bertahan Menguat di Tengah Gejolak Minyak Dunia dan Koreksi Rupiah
Bersih-Bersih Bursa Saham, OJK Jatuhkan 1.277 Sanksi dan Denda seratus Miliar Rupiah
Tensi Geopolitik Memanas, IHSG dan Rupiah Tertekan di Awal Pekan