Diskusi Reflektif Patria Sumut Soroti Tantangan Politik, Finansial hingga Dampak AI
Kitakininews.co.id -MEDAN : Dewan Pimpinan Daerah Perkumpulan Alumni Margasiswa Republik Indonesia (DPD Patria) Sumatera Utara menggelar Diskusi Reflektif yang membahas kiprah politisi umat Katolik di tengah dinamika politik saat ini.
Baca Juga:
Kegiatan yang berlangsung di Kota Kota Cafe and Resto, Sabtu, 11 September 2026, tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus wadah memperkuat kembali semangat kebersamaan dan distribusi kader Katolik dalam berbagai bidang, khususnya politik.
Diskusi yang dimoderatori Mian Silalahi itu menghadirkan Oloan Simbolon dan Maruli Tua Tarigan sebagai pembicara. Kegiatan turut dihadiri perwakilan Kerawam KAM, FMKI, PMKRI, Pemuda Katolik, WKRI dan ISKA Kota Medan.
Semangat diskusi tersebut digagas untuk memperkuat kembali kebersamaan dalam distribusi kader. Gagasan itu dikaitkan dengan semangat Konsili Vatikan II, khususnya ensiklik Gaudium et Spes yang membahas peranan Gereja dalam dunia modern.
Dalam refleksinya, Maruli Tua Tarigan menekankan pentingnya kapasitas bagi para politisi yang hendak terjun dan berkiprah di dunia politik, termasuk kesiapan secara finansial.
Menurut mantan anggota DPRD Kota Medan tersebut, realitas politik saat ini tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan biaya. Namun, kondisi itu tidak boleh membuat kader terjerumus ke dalam praktik politik uang.
Maruli juga mengingatkan bahwa keputusan untuk berpolitik harus dilandasi iman serta mendapat restu dari orang tua.
Sementara itu, Oloan Simbolon menegaskan bahwa seseorang yang hendak terjun ke dunia politik harus memiliki motivasi yang jelas dan tegas.
"Kalau mau berpolitik harus jelas dan tegas motivasinya. Kalau hanya uang motivasinya, lebih baik jangan ikut dalam kontestasi politik," tegas Oloan.
Oloan yang aktif dalam politik sejak Pemilu 1999 itu mengatakan dirinya pernah dipercaya menduduki kursi DPRD selama tiga periode, masing-masing di Kabupaten Tobasa, Kabupaten Samosir dan Provinsi Sumatera Utara.
Ia mengakui situasi politik pada masa tersebut dengan kondisi politik saat ini memiliki perbedaan yang cukup jauh. Karena itu, menurutnya, kader yang ingin terjun ke politik harus memiliki dasar motivasi yang kuat.
"Dalam pemikiran saya gereja cukup membuka pintu dan pada akhirnya kerja-kerja politik ke umat itu yang menentukan," ujarnya.
Pandangan lain disampaikan Dedy Handoko dari FMKI yang menyoroti tantangan hyperpolitik yang dinilainya menjadi perhatian serius. Menurutnya, perkembangan teknologi, termasuk penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin masif, jangan sampai membuat manusia meninggalkan martabatnya.
Dedy mengaitkan hal tersebut dengan ensiklik Magnifica Humanitas. Ia juga memberikan apresiasi kepada Patria yang masih membangun ruang pertemuan secara langsung melalui diskusi reflektif.
"Saya memberi apresiasi kepada Patria yang masih mau membuat pertemuan offline seperti diskusi saat ini," kata Dedy Handoko.
Oloan Simbolon menambahkan, pertemuan secara offline tersebut menjadi momentum untuk kembali meletakkan fondasi berbagai pertemuan dan diskusi yang sebelumnya telah lama dilakukan.
Mewakili Kerawam KAM, Inter Zalukhu juga menyambut baik pelaksanaan Diskusi Reflektif tersebut. Ia menilai refleksi perlu dilakukan secara internal maupun eksternal agar berbagai persoalan dapat dilihat secara lebih utuh.
Pada bagian akhir diskusi, kedua narasumber berpesan agar generasi muda tidak takut terjun ke dunia politik meski menghadapi kondisi politik yang semakin pragmatis. Mereka juga mengingatkan pentingnya menjaga motivasi awal dalam berpolitik serta tidak meninggalkan nilai-nilai iman.
Kegiatan kemudian ditutup dengan pemberian cenderamata berupa ulos dari Ketua DPD Patria Sumatera UtaraSoritua Sitohang kepada kedua narasumber.