Rabu, 30 September 2026

Taubatnya Seorang Pembalak Mangrove, Kini Menjadi Penjaga di Langkat Selat Malaka

Azzaren - Rabu, 30 September 2026 16:00 WIB
Taubatnya Seorang Pembalak Mangrove, Kini Menjadi Penjaga di Langkat Selat Malaka
Teks foto : Bagi Aliandi, mangrove adalah penjaga pesisir, tempat hidup berbagai satwa, sekaligus sumber kehidupan bagi masyarakat. (Aditya)

Kitakininews.co.id -Dulu menjadi pembalak hutan mangrove, kini Aliandi Sahputra berbalik menjadi penjaga dan pelopor ekowisata di Desa Tanjung Ibus, Kabupaten Langkat. Perubahan ini berawal dari kesadarannya akan pentingnya menjaga mangrove bagi lingkungan dan masyarakat.

Baca Juga:

Dulu, hutan mangrove menjadi tempat bagi Aliandi Sahputra untuk mencari penghasilan dengan cara pembalakan.

Namun, pria berusia 45 tahun ini justru berbalik menjadi penjaga hutan mangrove di Desa Tanjung Ibus, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Pada tahun 1998 hingga 2000, Aliandi sempat menjadi pembalak hutan mangrove.

Pohon-pohon mangrove ditebang dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Namun, seiring waktu, Aliandi mulai menyadari dampak dari aktivitas tersebut.

"Kerusakan mangrove tidak hanya mengancam ekosistem pesisir, tetapi juga berdampak pada kehidupan masyarakat yang menggantungkan hidup dari lingkungan sekitarnya," ujar Aliandi, Rabu (30/9/2026).

Kesadaran itulah yang kemudian mengubah jalan hidup Aliandi. Ia mulai mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga hutan mangrove, sekaligus mengajak warga untuk memanfaatkannya secara berkelanjutan.

Dari upaya tersebut dan kerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara, lahirlah program Pematang Buluh Ekotourism.

Kawasan ini menjadi bagian dari Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut. Di tempat ini, pengunjung tidak hanya diajak menikmati keindahan hutan mangrove, tetapi juga mengenal lebih dekat ekosistem pesisir dan pentingnya menjaga kelestariannya.

Upaya Aliandi pun mulai menarik perhatian wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara. Mereka datang untuk menikmati keindahan alam, menyusuri kawasan mangrove, sekaligus mendapatkan edukasi tentang lingkungan.

Bagi Aliandi, mangrove bukan lagi sekadar pohon yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi. Mangrove adalah penjaga pesisir, tempat hidup berbagai satwa, sekaligus sumber kehidupan bagi masyarakat. Menjaga mangrove juga membuka peluang ekonomi baru.

Kegiatan ekowisata yang dikembangkan Aliandi memberikan kesempatan bagi masyarakat sekitar untuk mendapatkan penghasilan dari sektor wisata, tanpa harus merusak hutan.

Dari seorang yang pernah menebang mangrove, Aliandi kini berdiri di garis depan untuk menjaganya. Perjalanan hidupnya menjadi bukti bahwa kesadaran terhadap lingkungan dapat tumbuh dari sebuah pengalaman.

Dan dari hutan yang dahulu ditebang, kini tumbuh harapan. Harapan untuk menjaga alam, mengedukasi generasi muda, sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat pesisir.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: M Iqbal
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Dorong Efisiensi Logistik, Pemprovsu Perkuat Konektivitas Kuala Tanjung–Penang Port

Dorong Efisiensi Logistik, Pemprovsu Perkuat Konektivitas Kuala Tanjung–Penang Port

Kejatisu Eksekusi Uang Pengganti Kerugian Negara Terpidana Adelin Lis

Kejatisu Eksekusi Uang Pengganti Kerugian Negara Terpidana Adelin Lis

Tujuh Jam Terombang Ambing di Laut, 4 Awak Kapal Berhasi Diselamatkan

Tujuh Jam Terombang Ambing di Laut, 4 Awak Kapal Berhasi Diselamatkan

Tanjungbalai Hilir Danau Toba, si Mutiara Selat Malaka

Tanjungbalai Hilir Danau Toba, si Mutiara Selat Malaka

Menikmati Panorama Selat Malaka di Pesisir Dumai

Menikmati Panorama Selat Malaka di Pesisir Dumai

Tiga Kapal Berbendera Malaysia Ditangkap di Selat Malaka, 16 WNA Diamankan

Tiga Kapal Berbendera Malaysia Ditangkap di Selat Malaka, 16 WNA Diamankan

Komentar
Berita Terbaru