Taubatnya Seorang Pembalak Mangrove, Kini Menjadi Penjaga di Langkat Selat Malaka
Kitakininews.co.id -Dulu menjadi pembalak hutan mangrove, kini Aliandi Sahputra berbalik menjadi penjaga dan pelopor ekowisata di Desa Tanjung Ibus, Kabupaten Langkat. Perubahan ini berawal dari kesadarannya akan pentingnya menjaga mangrove bagi lingkungan dan masyarakat.
Baca Juga:
Dulu, hutan mangrove menjadi tempat bagi
Aliandi Sahputra untuk mencari penghasilan dengan cara pembalakan.
Namun, pria berusia 45 tahun ini justru
berbalik menjadi penjaga hutan mangrove di Desa Tanjung Ibus, Kecamatan
Secanggang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.
Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Pada
tahun 1998 hingga 2000, Aliandi sempat menjadi pembalak hutan mangrove.
Pohon-pohon mangrove ditebang dan dimanfaatkan
untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Namun, seiring waktu, Aliandi mulai menyadari
dampak dari aktivitas tersebut.
"Kerusakan mangrove tidak hanya mengancam
ekosistem pesisir, tetapi juga berdampak pada kehidupan masyarakat yang
menggantungkan hidup dari lingkungan sekitarnya," ujar Aliandi, Rabu
(30/9/2026).
Kesadaran itulah yang kemudian mengubah jalan
hidup Aliandi. Ia mulai mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga hutan
mangrove, sekaligus mengajak warga untuk memanfaatkannya secara berkelanjutan.
Dari upaya tersebut dan kerja sama dengan Balai
Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara, lahirlah program Pematang
Buluh Ekotourism.
Kawasan ini menjadi bagian dari Suaka
Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut. Di tempat ini, pengunjung
tidak hanya diajak menikmati keindahan hutan mangrove, tetapi juga mengenal
lebih dekat ekosistem pesisir dan pentingnya menjaga kelestariannya.
Upaya Aliandi pun mulai menarik perhatian
wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara. Mereka datang untuk menikmati
keindahan alam, menyusuri kawasan mangrove, sekaligus mendapatkan edukasi
tentang lingkungan.
Bagi Aliandi, mangrove bukan lagi sekadar pohon
yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi. Mangrove adalah penjaga
pesisir, tempat hidup berbagai satwa, sekaligus sumber kehidupan bagi
masyarakat. Menjaga mangrove juga membuka peluang ekonomi baru.
Kegiatan ekowisata yang dikembangkan Aliandi
memberikan kesempatan bagi masyarakat sekitar untuk mendapatkan penghasilan
dari sektor wisata, tanpa harus merusak hutan.
Dari seorang yang pernah menebang mangrove,
Aliandi kini berdiri di garis depan untuk menjaganya. Perjalanan hidupnya
menjadi bukti bahwa kesadaran terhadap lingkungan dapat tumbuh dari sebuah
pengalaman.
Dan dari hutan yang dahulu ditebang, kini tumbuh harapan. Harapan untuk menjaga alam, mengedukasi generasi muda, sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat pesisir.
Dorong Efisiensi Logistik, Pemprovsu Perkuat Konektivitas Kuala Tanjung–Penang Port
Kejatisu Eksekusi Uang Pengganti Kerugian Negara Terpidana Adelin Lis
Tujuh Jam Terombang Ambing di Laut, 4 Awak Kapal Berhasi Diselamatkan
Tanjungbalai Hilir Danau Toba, si Mutiara Selat Malaka
Menikmati Panorama Selat Malaka di Pesisir Dumai