Senin, 20 Juli 2026

Sofyan Tan : Negara Kaya Masih Impor Pangan, Karena Pendidikan Belum Prioritas

Fitri - Kamis, 05 Maret 2026 15:05 WIB
Sofyan Tan : Negara Kaya Masih Impor Pangan, Karena Pendidikan Belum Prioritas
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan dr Sofyan Tan dalam kegiatan Dialog Kebangsaan bertema "Indonesia Kaya, Kenapa Kita Belum Sejahtera?" di sekolah di Rantauprapat pada Kamis, 5 Februari 2026. (Foto : Nal)

Kitakini.news - Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan dr Sofyan Tan mengajak para pelajar di Rantauprapat, Kabupaten Labuhanbatu, menjadikan pendidikan tinggi sebagai kunci membangun kemandirian bangsa. Ajakan tersebut disampaikannya saat menggelar Dialog Kebangsaan bertema "Indonesia Kaya, Kenapa Kita Belum Sejahtera?" di tiga sekolah di Rantauprapat pada Kamis (5/3).

Baca Juga:

Kunjungan tersebut diawali di SMA Swasta Panglima Polem di Jalan Cut Nyak Dhien, dilanjutkan ke SMA Swasta Buddhis Jayanti di Jalan Gatot Subroto, dan ditutup di SMA Swasta Methodist 2 Rantauprapat di Jalan Bilah.

Di hadapan ratusan siswa, Sofyan Tan memaparkan ironi yang masih dihadapi Indonesia. Menurutnya, meski dikenal sebagai negara yang kaya sumber daya alam dengan tanah yang subur, Indonesia hingga kini masih bergantung pada impor berbagai bahan pangan.

Sofyan Tan mengungkapkan, berdasarkan Data Ekspor dan Impor dari Badan Pusat Statistik (BPS) Januari 2026, nilai impor sayuran yang masuk ke Indonesia mencapai 60 juta dolar AS atau sekitar 66 juta kilogram. Sebaliknya, ekspor sayuran Indonesia ke luar negeri masih sangat kecil, yakni sekitar 5 juta dolar AS atau 5,8 juta kilogram.

Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas buah-buahan. Nilai impor buah ke Indonesia mencapai 190 juta dolar AS atau sekitar 102 juta kilogram. Sementara ekspor buah dari Indonesia ke luar negeri hanya sekitar 84 juta dolar AS atau sekitar 101 juta kilogram.

Menurut Sofyan Tan, ketergantungan impor bukan hanya terjadi pada sayur dan buah, tetapi juga pada komoditas lain seperti daging sapi, susu, beras, dan gandum. Pasokan bahan pangan tersebut sebagian besar masih berasal dari negara lain seperti Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Thailand, dan Vietnam.

Padahal, Indonesia memiliki potensi besar di sektor pertanian. Luas lahan tanam Indonesia tercatat sebagai salah satu yang terbesar di dunia dan kondisi tanahnya subur serta memungkinkan kegiatan bercocok tanam sepanjang tahun.

"Lalu kenapa ini terjadi? Karena kita belum prioritaskan pendidikan," ujar Sofyan Tan di hadapan para siswa.

Ia menjelaskan bahwa negara-negara maju yang kini menjadi eksportir pangan umumnya memiliki teknologi pertanian yang kuat. Teknologi tersebut lahir dari sumber daya manusia yang terdidik serta didukung oleh riset yang berkembang di perguruan tinggi.

Menurutnya, pendidikan tinggi yang berkualitas dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat merupakan fondasi penting dalam menciptakan inovasi dan teknologi. Inovasi tersebut nantinya dapat meningkatkan produktivitas sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan di Indonesia.

Sofyan Tan menekankan pentingnya melanjutkan pendidikan setelah lulus SMA atau SMK. Ia mendorong para siswa untuk memilih perguruan tinggi yang memiliki kualitas pendidikan baik serta aktif melakukan riset.

Menurutnya, hasil riset yang lahir dari perguruan tinggi dapat melahirkan berbagai teknologi baru yang mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen. Dengan dukungan teknologi tersebut, Indonesia diharapkan tidak lagi bergantung pada impor bahan pangan dan justru mampu menjadi negara pengekspor pangan.

"Kuliahlah hingga S3, bikin riset sebanyak-banyaknya hingga bisa menciptakan teknologi yang dapat membantu menaikkan kualitas dan kuantitas hasil panen," ujar Sofyan Tan.

Pesan tersebut sekaligus menjadi refleksi bagi generasi muda bahwa kekayaan sumber daya alam saja tidak cukup untuk membawa sebuah bangsa menuju kesejahteraan. Tanpa dukungan sumber daya manusia yang unggul, potensi besar yang dimiliki negara bisa saja tidak dimanfaatkan secara maksimal.

Karena itu, pendidikan dan riset menjadi faktor penting dalam membangun kemandirian nasional. Melalui inovasi dan teknologi yang lahir dari dunia pendidikan, berbagai sektor strategis seperti pertanian, pangan, hingga industri diharapkan mampu berkembang lebih maju dan berdaya saing di tingkat global.



Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Siti Amelia
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Mendiktisaintek Resmikan Universitas Satya Terra Bhinneka, Wakil Wali Kota Medan Berharap Jadi Jembatan Sukses Anak Kurang Mampu

Mendiktisaintek Resmikan Universitas Satya Terra Bhinneka, Wakil Wali Kota Medan Berharap Jadi Jembatan Sukses Anak Kurang Mampu

Menteri Prof Brian: ST Bhinneka Kampus Monumental

Menteri Prof Brian: ST Bhinneka Kampus Monumental

Roadshow Bulan Bung Karno, Sofyan Tan Bangkitkan Nasionalisme Pelajar

Roadshow Bulan Bung Karno, Sofyan Tan Bangkitkan Nasionalisme Pelajar

Perjuangan Sofyan Tan Berhasil, Pemerintah Siapkan Rp1,8 Triliun untuk PTS

Perjuangan Sofyan Tan Berhasil, Pemerintah Siapkan Rp1,8 Triliun untuk PTS

Sofyan Tan Bawa Harapan Baru untuk SD Muhammadiyah 09 Medan

Sofyan Tan Bawa Harapan Baru untuk SD Muhammadiyah 09 Medan

Momentum Hari Lahir Pancasila, Sofyan Tan Resmikan Rumah Aspirasi untuk Ruang Generasi Masa Depan

Momentum Hari Lahir Pancasila, Sofyan Tan Resmikan Rumah Aspirasi untuk Ruang Generasi Masa Depan

Komentar
Berita Terbaru