Sabtu, 10 Oktober 2026

Panen Raya di Sumut Belum Mampu Turunkan Harga Beras

Siti Amelia - Kamis, 08 Oktober 2026 14:54 WIB
Panen Raya di Sumut Belum Mampu Turunkan Harga Beras
dokumentasi
Gunawan Benjamin

Kitakininews.co.id - Musim panen raya padi di Sumatra Utara (Sumut) yang diperkirakan berlangsung hingga November mendatang dipastikan belum akan berdampak langsung pada penurunan harga beras di pasaran.

Baca Juga:

Kendati harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani terpantau mulai melandai, dinamika biaya produksi dan bayang-bayang ancaman iklim global membuat harga beras bertahan di level saat ini.

Ketua Tim Pemantau Harga Pasar Sumut, Gunawan Benjamin mengungkapkan berdasarkan pemantauan lapangan, harga GKP yang sebelumnya sempat menyentuh angka Rp8.000 per kilogram (kg), kini turun ke kisaran Rp7.200 hingga Rp7.300 per kg.

"Kendati demikian, penurunan ini dinilai belum cukup menjadi justifikasi otomatis bagi penurunan harga beras di tingkat konsumen," ucapnya, Kamis (8/9/2026).

Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) mencatat, harga rata-rata beras medium di Kota Medan saat ini masih berada di kisaran Rp15.200 hingga Rp15.750 per kg.

Sementara itu, peredaran beras premium di pasar tradisional tetap dipertahankan oleh produsen dan pedagang demi menjaga marjin di tengah kenaikan harga pokok produksi.

Pakar dan pelaku rantai pasok menilai, tren harga beras yang sulit turun dalam waktu dekat merupakan konsekuensi dari kalkulasi keekonomian yang rasional.

Di sisi lain, isu utama sektor pangan saat ini telah bergeser dari sekadar fluktuasi harga menuju upaya mitigasi pasokan jangka panjang.

Dampak anomali iklim dan ancaman gelombang El Nino yang sempat memicu gagal panen di sejumlah wilayah Indonesia menuntut adanya arah kebijakan yang lebih berorientasi pada ketahanan stok.

Meskipun wilayah Sumut dinilai relatif aman dari hantaman langsung El Nino, risiko gangguan iklim global terhadap produktivitas lahan tetap menjadi faktor krusial yang diwaspadai.

"Di tengah ancaman penurunan produktivitas lahan sawah akibat potensi kekeringan, prioritas utama saat ini bukan lagi sekadar mengharapkan harga beras turun, melainkan bagaimana pemerintah bersama pemangku kepentingan memastikan ketersediaan pasokan tetap aman untuk mengantisipasi gejolak di masa mendatang," demikian ungkap dia.

Dengan berakhirnya masa puncak produksi gabah pada bulan ini, tantangan terbesar bagi tata niaga pangan ke depan adalah menjaga keseimbangan antara stabilitas harga di tingkat petani agar tetap bersemangat berproduksi, sekaligus menjamin ketersediaan beras yang terjangkau bagi masyarakat di tengah ketidakpastian iklim global.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Indonesia Perkuat Koridor Rantai Pasok Dari Sumut

Indonesia Perkuat Koridor Rantai Pasok Dari Sumut

Harga CPO Naik tapi TBS Turun, Petani Sawit Belum Diuntungkan

Harga CPO Naik tapi TBS Turun, Petani Sawit Belum Diuntungkan

Harga Minyak Meroket, IHSG dan Rupiah Justru Tampil Perkasa di Zona Hijau

Harga Minyak Meroket, IHSG dan Rupiah Justru Tampil Perkasa di Zona Hijau

Konflik Iran-AS Memanas Lagi, Pasar Keuangan RI Dibayangi Risiko Inflasi dan Pelemahan Rupiah

Konflik Iran-AS Memanas Lagi, Pasar Keuangan RI Dibayangi Risiko Inflasi dan Pelemahan Rupiah

IHSG dan Rupiah Bergerak Sideways, Harga Emas Tertekan Koreksi Teknikal

IHSG dan Rupiah Bergerak Sideways, Harga Emas Tertekan Koreksi Teknikal

Gubernur Bobby Nasution Soroti Harga Beras, Pemprov Sumut Gelar Pangan Murah

Gubernur Bobby Nasution Soroti Harga Beras, Pemprov Sumut Gelar Pangan Murah

Komentar
Berita Terbaru