Jumat, 04 September 2026

Harga CPO Naik tapi TBS Turun, Petani Sawit Belum Diuntungkan

Siti Amelia - Kamis, 03 September 2026 14:14 WIB
Harga CPO Naik tapi TBS Turun, Petani Sawit Belum Diuntungkan
amelia
ilustrasi

Kitakininews.co.id -Tren kenaikan harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di pasar global sepanjang periode Juli hingga Agustus ternyata belum membawa angin segar bagi para petani sawit di tanah air. Harga Tandan Buah Segar (TBS) justru bergerak berlawanan arah, hingga menekan nilai kesejahteraan petani.

Baca Juga:

Ekonom asal Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengungkapkan bahwa fenomena ini berdampak langsung pada penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) sektor perkebunan rakyat pada bulan Agustus.

"Kenaikan harga CPO global tidak serta-merta dinikmati petani. Penurunan harga TBS memicu penurunan NTP perkebunan rakyat sebesar 0,42%, dari posisi 224,31 pada bulan Juli menjadi 223,38 pada Agustus," ujar Gunawan, Kamis (3/9/2026).

Padahal, secara bulanan (month-to-month), rata-rata harga CPO mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pada bulan Juli, harga CPO bergerak pada rentang 4.500 hingga 4.700-an Ringgit Malaysia per ton. Tren penguatan tersebut berlanjut pada Agustus di kisaran 4.620 hingga 5.020-an Ringgit per ton.


Menjelaskan pemicu anomali tersebut, Gunawan menyebutkan bahwa penurunan harga TBS di bulan Agustus tidak terlepas dari siklus puncak panen (puncak panen) yang berlangsung sepanjang Juli hingga Agustus.

"Meskipun harga CPO dunia naik, melimpahnya pasokan dan stok CPO di dalam negeri mempengaruhi pembentukan harga TBS di tingkat lokal. Hal ini tecermin dari indeks harga yang diterima petani perkebunan rakyat yang mengalami penurunan sebesar 0,04% secara bulanan," jelasnya.

Kendati demikian, Gunawan menilai tekanan pada NTP perkebunan rakyat ini tidak mengindikasikan adanya gangguan fundamental yang serius, melainkan dinamika pasar yang bersifat sementara.

Data teranyar menunjukkan bahwa produksi minyak kelapa sawit nasional mulai memasuki tren penurunan pada akhir Agustus. Penurunan ini dipengaruhi oleh berkurangnya kuantitas TBS yang dipanen maupun penurunan tingkat rendemen (konversi TBS ke CPO).

Ke depan, ia memproyeksikan harga TBS dan CPO masih memiliki ruang penguatan yang cukup besar, ditopang oleh tingginya permintaan dari India serta potensi berkurangnya pasokan global.

"Harga CPO yang diproyeksikan akan terus mencoba menguji kembali tingkat psikologis 5.000 Ringgit per ton. Seiring melandainya produksi, NTP petani memiliki peluang besar untuk mengalami pemulihan, selama tidak terjadi pemasukan signifikan pada indeks harga yang dibayar petani," pungkas Gunawan.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Harga Minyak Meroket, IHSG dan Rupiah Justru Tampil Perkasa di Zona Hijau

Harga Minyak Meroket, IHSG dan Rupiah Justru Tampil Perkasa di Zona Hijau

Konflik Iran-AS Memanas Lagi, Pasar Keuangan RI Dibayangi Risiko Inflasi dan Pelemahan Rupiah

Konflik Iran-AS Memanas Lagi, Pasar Keuangan RI Dibayangi Risiko Inflasi dan Pelemahan Rupiah

IHSG dan Rupiah Bergerak Sideways, Harga Emas Tertekan Koreksi Teknikal

IHSG dan Rupiah Bergerak Sideways, Harga Emas Tertekan Koreksi Teknikal

Menyemai Limbah Kelapa Sawit Jadi Energi

Menyemai Limbah Kelapa Sawit Jadi Energi

IHSG dan Rupiah Hijau, Ekonom Sumut Ingatkan Ancaman Geopolitik Timur Tengah

IHSG dan Rupiah Hijau, Ekonom Sumut Ingatkan Ancaman Geopolitik Timur Tengah

Ekspor Sawit Sumut Tetap Solid di Tengah Sikap 'Wait and See' Kebijakan DSI

Ekspor Sawit Sumut Tetap Solid di Tengah Sikap 'Wait and See' Kebijakan DSI

Komentar
Berita Terbaru