Ekonomi Sumut Tumbuh 23,54 Persen, OJK Sumut: Literasi Tinggi, Tapi Inklusi Keuangan Masih Jadi Tantangan
Kitakini.news - Pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara (Sumut) yang kuat tidak serta merta menjamin keamanan finansial masyarakat. Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Utara, Khoirul Muttaqien, mengingatkan adanya kesenjangan antara tingkat literasi keuangan yang tinggi dengan tingkat inklusi yang masih rendah.
Baca Juga:
Hal ini disampaikan dalam kegiatan Media Talk bertema "Sinergi OJK dan Media Dalam Mengawal Perkembangan Sektor Jasa Keuangan" di Kantor OJK Provinsi Sumatera Utara, Medan Helvetia, Kota Medan, Selasa (10/3/2026).
Menurutnya, di tengah tantangan ekonomi global, Sumut tetap menjadi mesin penggerak ekonomi di Pulau Sumatera. OJK mencatat, Sumut menyumbang sekitar 23,54 persen terhadap total perekonomian di pulau tersebut.
Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumut tercatat mencapai Rp1.236 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi daerah masih sangat kuat, sejalan dengan tren positif pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran 5,11 persen.
"Masyarakat Tahu, Tapi Belum Memanfaatkan"
Meskipun infrastruktur keuangan di Sumut terbilang lengkap, Khoirul Muttaqien menyoroti satu isu krusial. Hingga saat ini, terdapat 57 bank umum, 49 Bank Perkreditan Rakyat (BPR/BPRS), 26 manajer investasi, hingga 22 kantor cabang sekuritas yang beroperasi di wilayah ini.
Namun, Khoirul menegaskan bahwa pengetahuan saja tidak cukup. "Literasi ekonomi syariah sebenarnya cukup tinggi, tetapi tingkat inklusinya masih rendah. Artinya masyarakat sudah mengetahui, namun belum semuanya memanfaatkan layanan keuangan syariah," ujar Khoirul Muttaqien.
Pernyataan ini menjadi angle penting bagi masyarakat umum. Artinya, warga Sumut sudah paham tentang produk keuangan, namun belum berani atau belum memiliki akses yang tepat untuk menggunakannya secara produktif.
Selain mendorong pemanfaatan layanan resmi, OJK Sumut juga gencar mengedukasi masyarakat untuk menghindari risiko finansial. Di tahun 2025, OJK mencatat lebih dari 1.200 kegiatan literasi keuangan telah dilaksanakan di 33 kabupaten/kota.
Fokus edukasi tidak hanya pada produk keuangan, tetapi juga pada perlindungan diri dari investasi ilegal, pinjaman online (pinjol) ilegal, dan judi online.
Masyarakat, mulai dari pelajar, pelaku UMKM, hingga kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, menjadi sasaran utama sosialisasi ini untuk memastikan mereka tidak menjadi korban praktik keuangan yang merugikan.
Menyongsong momentum Ramadan 2026, OJK Sumut meluncurkan program khusus bernama Gerak Syariah (Gerakan Ramadan Keuangan Syariah). Program ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan inklusi tersebut melalui berbagai aktivitas, antara lain: Podcast dan talkshow Ramadan, edukasi keuangan di pesantren, dan kegiatan sosial berbasis keuangan syariah.
"Tujuannya jelas, meningkatkan pemahaman sekaligus memperluas akses layanan keuangan yang aman dan sesuai prinsip syariah," tuturnya
Melalui berbagai program literasi dan inklusi keuangan ini, OJK berharap masyarakat Sumatera Utara tidak hanya menjadi penonton dalam pertumbuhan ekonomi daerah. Warga diharapkan mampu memanfaatkan layanan sektor jasa keuangan secara aman, bijak, dan produktif.
Dengan sinergi antara OJK, media, dan masyarakat, diharapkan ekosistem keuangan Sumut semakin sehat dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Sumut Terjaga di Tengah Ketidakpastian Geopolitik
OJK Sumatera Utara Dorong Literasi Keuangan Syariah di Madrasah, Pelajar Jadi Agen Perubahan Finansial
Harga CPO Rebound, Ekonom Sumut Prediksi Kenaikan hingga 4.250 Ringgit per Ton
Dorong Pertumbuhan Ekonomi UMKM di Sumut Melalui Bulan Inklusi Keuangan
Deflasi Februari 2025 Tanda Keseimbangan Pasokan, Bukan Melemahnya Daya Beli