Selasa, 27 Oktober 2026

Anak Sempat Gagal Kuliah karena Biaya, Orang Tua Terharu Berkat Perjuangan Sofyan Tan

Harizal - Selasa, 27 Oktober 2026 15:43 WIB
Anak Sempat Gagal Kuliah karena Biaya, Orang Tua Terharu Berkat Perjuangan Sofyan Tan
Dr Sofyan Tan dihadapan ratusan orangtua murid yang sempat putus asa untuk melanjutkan pendidikan anaknya ke jenjang kuliah. (Foto : Dhini)

Kitakininews.co.id - MEDAN : Harapan keluarga kurang mampu untuk menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi kembali mengemuka dalam kegiatan serap aspirasi anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, di AMIK Medicom dan STIE Eka Prasetya, Kota Medan, Selasa (27/10/2026).

Baca Juga:

Pertemuan tersebut diwarnai kisah haru para orang tua mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Mereka mengungkapkan perjuangan menghadapi keterbatasan ekonomi, kendala data kesejahteraan, hingga kekhawatiran anak-anaknya gagal melanjutkan pendidikan.

Perjuangan Sitorus, ayah empat anak, mengaku bersyukur setelah anak ketiganya, Theresia br Sitorus, memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi melalui KIP Kuliah.

Bagi keluarganya, bantuan tersebut menjadi jalan keluar dari persoalan biaya pendidikan yang selama ini membayangi masa depan anak-anaknya. Ia berharap program KIP Kuliah terus tersedia bagi keluarga berpenghasilan rendah.

Kisah serupa disampaikan seorang ibu tunggal yang juga menjadi relawan Sofyan Tan. Ibu tiga anak itu mengaku sempat menangis diam-diam karena khawatir putrinya, Melda Simamora, gagal kuliah akibat persoalan desil kesejahteraan keluarga.

Setelah melalui proses pengurusan bantuan pendidikan, Melda akhirnya memperoleh kesempatan menempuh pendidikan pada Program Studi Manajemen di STIE Eka Prasetya.

Di AMIK Medicom, Mustinawati Sibarani juga menyampaikan rasa syukur. Anaknya, Nadin Olivia, sempat menunda kuliah selama satu tahun karena keluarga tidak memiliki biaya yang cukup.

Kesempatan memperoleh bantuan pendidikan kemudian membuka jalan bagi Nadin untuk kembali melanjutkan pendidikan tinggi.

Dalam pertemuan tersebut, Sofyan Tan mengungkapkan bahwa perjuangan memperluas akses KIP Kuliah tidak hanya menghadapi persoalan keterbatasan kuota, tetapi juga dugaan pungutan tambahan oleh oknum pengelola perguruan tinggi.

Menurutnya, terdapat kampus yang meminta biaya pendaftaran hingga jutaan rupiah kepada calon mahasiswa penerima bantuan. Ia juga menyoroti dugaan praktik pengambilan uang biaya hidup mahasiswa yang disebut mencapai Rp5,7 juta per semester untuk menutupi biaya perkuliahan.

Sofyan Tan menegaskan bahwa bantuan pendidikan seharusnya digunakan sesuai peruntukannya, bukan menjadi celah untuk membebani mahasiswa dari keluarga kurang mampu.

Karena itu, ia bersama tim melakukan seleksi terhadap perguruan tinggi yang dinilai memiliki komitmen dalam menjalankan program KIP Kuliah. Dari proses tersebut, menurutnya, penyaluran kuota bantuan diarahkan kepada 25 kampus, termasuk AMIK Medicom dan STIE Eka Prasetya.

Selain dugaan pungutan tambahan, Sofyan Tan menyoroti persoalan data sosial ekonomi yang menyebabkan sebagian keluarga miskin kesulitan mengakses bantuan pendidikan.

Ia menyebut masih ditemukan keluarga buruh harian lepas, pedagang kecil, dan warga yang tinggal di rumah sewa, tetapi tercatat dalam kelompok desil kesejahteraan yang tidak sesuai dengan kondisi ekonomi sebenarnya.

Akibat ketidaksesuaian data tersebut, calon mahasiswa dari keluarga prasejahtera berpotensi tidak memenuhi kriteria penerima KIP Kuliah meskipun secara ekonomi membutuhkan bantuan.

Menurut Sofyan Tan, persoalan itu menjadi perhatian serius karena dapat menghambat kesempatan anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

"Berpegang teguh pada mandat Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31, di mana negara menjamin hak warga negara untuk mendapatkan pendidikan dan fakir miskin dipelihara oleh negara, maka saya terus berjuang," ujar Sofyan Tan.

Ia mengatakan, upaya memperjuangkan akses KIP Kuliah terus dilakukan melalui pendampingan dan koordinasi agar calon mahasiswa yang memenuhi persyaratan tidak kehilangan kesempatan hanya karena persoalan administrasi.

Di hadapan para orang tua mahasiswa, Sofyan Tan juga mengingatkan pentingnya menjaga kesempatan belajar yang telah diperoleh, sekaligus memastikan bantuan pendidikan benar-benar menjangkau keluarga yang membutuhkan.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Tangis  Haru Orangtua Pecah, Sofyan Tan Bantu Anak Keluarga Miskin Lolos KIP Kuliah

Tangis Haru Orangtua Pecah, Sofyan Tan Bantu Anak Keluarga Miskin Lolos KIP Kuliah

Sofyan Tan: Pekerja Pendukung Operasional Juga Penjaga Pancasila dan Persatuan Bangsa

Sofyan Tan: Pekerja Pendukung Operasional Juga Penjaga Pancasila dan Persatuan Bangsa

Rico Waas Salurkan Bantuan Pendidikan untuk 214 Mahasiswa Medan, Maksimal Rp6 Juta per Semester

Rico Waas Salurkan Bantuan Pendidikan untuk 214 Mahasiswa Medan, Maksimal Rp6 Juta per Semester

Sofyan Tan Bandingkan Budaya Bersih Singapura, Jepang dan Indonesia

Sofyan Tan Bandingkan Budaya Bersih Singapura, Jepang dan Indonesia

Luis Enrique Usai PSG Hajar Barcelona 4-2: Kalahkan Tim Sekelas Blaugrana Selalu Istimewa

Luis Enrique Usai PSG Hajar Barcelona 4-2: Kalahkan Tim Sekelas Blaugrana Selalu Istimewa

Sofyan Tan Ingatkan Dosen: Riset Harus Lahirkan Hak Paten, Jangan Berakhir di Tong Sampah

Sofyan Tan Ingatkan Dosen: Riset Harus Lahirkan Hak Paten, Jangan Berakhir di Tong Sampah

Komentar
Berita Terbaru