Jumat, 28 Agustus 2026

Sofyan Tan: Cahaya Ada di Hati, Bukan di Mata

CT2 - Jumat, 28 Agustus 2026 18:42 WIB
Sofyan Tan: Cahaya Ada di Hati, Bukan di Mata
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, di SLB A Karya Murni, Jalan Karya Wisata, Medan Johor, Jumat 28 Agustus 2026. (Foto : Nal)
Kitakininews.co.id -MEDAN : Suara nyanyian anak-anak menyambut kedatangan Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, di SLB A Karya Murni, Jalan Karya Wisata, Medan Johor, Jumat (28/8), terdengar riang dan penuh semangat.

Baca Juga:

Mereka bernyanyi tanpa ragu, seolah tidak sedang berbicara tentang keterbatasan. Mereka tidak dapat melihat siapa yang datang, tetapi mereka mampu merasakan kehadiran tamu dengan hati. Tidak ada wajah yang meminta dikasihani. Yang terlihat justru keceriaan, keberanian dan harapan.

Menariknya, pertemuan itu bukanlah awal dari perhatian Sofyan Tan terhadap sekolah tersebut. Jauh sebelum datang dan bertatap muka dengan para siswa, bantuan pendidikan Program Indonesia Pintar (PIP) ternyata telah bertahun-tahun disalurkan kepada siswa SLB A Karya Murni.

"Saya sejak awal sudah instruksikan SLB-SLB yang ada di dekat kami yang membutuhkan bantuan, dicarikan dan diberikan beasiswa PIP," kata Sofyan.

Artinya, perhatian itu telah berjalan bahkan ketika dirinya belum pernah menginjakkan kaki di sekolah tersebut. Bagi Sofyan, membantu anak-anak mendapatkan akses pendidikan tidak harus menunggu dirinya datang dan melihat langsung kondisi mereka.Kehadiran di sekolah itu justru menjadi kesempatan baginya untuk mendengar lebih jauh kebutuhan siswa dan para guru.

Ia kemudian mengetahui bahwa sebagian besar operasional sekolah masih mengandalkan donasi dan bantuan dari orang tua siswa yang mampu. Kondisi itu membuat hatinya tergerak untuk memberikan bantuan secara pribadi. Dari gajinya, Sofyan berencana membeli lima kipas angin untuk sekolah. Ia juga memberikan insentif kepada 16 guru masing-masing Rp500 ribu atau total Rp8 juta.

"Angka lima mengingatkan pada Pancasila. Sedangkan angka delapan dipilih sebagai simbol garis yang tidak terputus. Mudah-mudahan hubungan antara kita semuanya tidak terputus," katanya.

Kepala Sekolah SLB A Karya Murni, Suster Petriani br Saragih, mengungkapkan betapa berat perjuangan para guru mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka belajar membaca, menulis, berjalan mengenali lingkungan, menggunakan laptop, memasak hingga bermain musik agar kelak mampu hidup mandiri.

"Supaya mereka nanti ada tempatnya untuk masa depan," ujar Suster Petriani.

Di balik proses itu ada kisah-kisah yang menggetarkan hati. Seorang anak pernah bertanya kepada Suster, "Boleh pinjam mata Suster?" Ia hanya ingin mengetahui warna bajunya. Ada pula Jojo, anak tunanetra sekaligus autis yang belum memahami bahwa ibunya telah meninggal dan masih sering meminta menelepon mamanya. Namun, di tengah segala keterbatasan itu, anak-anak tetap memiliki mimpi. Dalam doa mereka bahkan terucap harapan sederhana, "Ya Tuhan, semoga kami melihat."

Mendengar kisah itu, Sofyan Tan menyampaikan penghormatan kepada para guru yang menurutnya bekerja bukan sekadar sebagai profesi, melainkan dengan panggilan hati. Sebelum meninggalkan sekolah, ia menyampaikan pesan yang menjadi inti pertemuan tersebut.

"Cahaya itu ada di dalam hati, bukan di mata. Ada orang yang matanya terang, tapi hatinya tidak bercahaya," ujar Sofyan Tan.

Hari itu, Sofyan Tan mungkin datang untuk melihat sekolah yang memiliki banyak keterbatasan. Namun, justru anak-anak yang tidak bisa melihat itulah yang mengajarkan sebuah makna sederhana: keterbatasan mata tidak pernah berarti keterbatasan harapan. Dan jauh sebelum bertemu mereka, kepedulian itu sudah lebih dulu hadir melalui PIP—bantuan yang terus mengalir bahkan ketika Sofyan belum pernah datang. Karena cahaya yang sesungguhnya memang tidak selalu terlihat. Ia hadir ketika seseorang memilih peduli, bahkan sebelum diminta.(*)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Aksi Massa  Berujung Kesepakatan, DPR Targetkan RUU Perampasan Aset Selesai 15 Desember

Aksi Massa Berujung Kesepakatan, DPR Targetkan RUU Perampasan Aset Selesai 15 Desember

Kepala SMA Negeri 1 Telukdalam Sampaikan Klarifikasi, Minta Semua Pihak Jaga Kondusivitas Sekolah

Kepala SMA Negeri 1 Telukdalam Sampaikan Klarifikasi, Minta Semua Pihak Jaga Kondusivitas Sekolah

Keluarga Winda Lorenza Gowasa Demo Polda Sumut, Desak Scientific Investigation

Keluarga Winda Lorenza Gowasa Demo Polda Sumut, Desak Scientific Investigation

F-PDI Pejuangan Ingatkan Pemprovsu Jangan Terjebak Dalam Politik Angka

F-PDI Pejuangan Ingatkan Pemprovsu Jangan Terjebak Dalam Politik Angka

Pertamina EP Rantau Sosialisasi Keamanan Pipa Migas, Warga Diimbau Lapor Jika Ada Penyadapan Ilegal

Pertamina EP Rantau Sosialisasi Keamanan Pipa Migas, Warga Diimbau Lapor Jika Ada Penyadapan Ilegal

QRESTO, Inovasi Rico Waas Persempit Celah Kebocoran Pajak Restoran di Medan

QRESTO, Inovasi Rico Waas Persempit Celah Kebocoran Pajak Restoran di Medan

Komentar
Berita Terbaru