Melawan Stroke dan Kegagalan, Chaidir Saleh Kembangkan Melon Golden Hingga Mentori Petani Milenial
Kitakininews.co.id - Duduk di atas kursi roda tak melunturkan semangat Chaidir Saleh (62) untuk terus mengolah tanah. Di bawah sengatan sinar matahari sore di Kebun Tanjung Seumantoh, Aceh Tamiang, tangannya tetap cekatan memberi arahan kepada anak-anak muda yang sedang menggeburkan tanah polybag.
Baca Juga:
Chaidir adalah gambaran nyata ketangguhan seorang petani. Perjalanannya membudidayakan Melon Golden Alisha dipenuhi kerikil tajam—mulai dari empat kali gagal panen total, buah hasil panen yang terasa hambar, hingga ujian fisik ketika ia terserang stroke ringan pada Desember 2024 lalu.
Namun, alih-alih menyerah, Chaidir justru menjadikan tiap kegagalan sebagai bahan observasi mandiri. "Dulu saat awal mencoba, panennya hambar dan terpaksa dijual murah ke agen. Tapi saya terus pelajari rahasianya. Ternyata kuncinya ada pada perawatan vegetatif dan masa panen yang sabar menunggu hingga usia 60–70 hari," kenang Chaidir.
Ketika serangan stroke sempat menghentikan aktivitas fisiknya pada akhir 2024, semangat Chaidir untuk berbagi ilmu justru menemukan jalan baru. Pertamina EP Field Rantau yang melihat kegigihan dan rekam jejak sukses Chaidir berinisiatif menggandengnya dalam Program Smart Agriculture Melonesia.
Chaidir kini diposisikan sebagai mentor utama dalam Sekolah Lapang, membagikan ilmu budidaya melon premium kepada belasan anak muda yang tergabung dalam Kelompok Tani Melon Mutiara.
Dari atas kursi roda dan di sela pemulihan kesehatannya, ia mengajarkan teknik fermentasi tanah, pemangkasan batang, hingga trik efisiensi media tanam yang bisa digunakan berulang kali.
"Bapak Chaidir punya pengalaman panjang dan ketangguhan luar biasa. Pengetahuan serta 'formula manis' yang ia miliki sangat berharga untuk ditransfer kepada generasi muda," kata Manager Community Involvement & Development (CID) Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1, Iwan Ridwan Faizal.
Bagi Chaidir, membagikan ilmunya kepada anak-anak muda desa bukan sekadar aktivitas mengisi waktu, melainkan bentuk dedikasi agar generasi penerus tak takut bertani. Bagi mereka yang baru bangkit dari dampak banjir bandang late 2025 lalu, kehadiran Chaidir menjadi pemantik harapan baru.
Melalui 12 kali pertemuan Sekolah Lapang, Chaidir berharap 'sentuhan manis' melon golden tak hanya menghidupi keluarganya—sebagaimana ia berhasil membiayai kuliah anaknya—tetapi juga mampu mengangkat perekonomian anak-anak muda di Aceh Tamiang.
"Generasi muda di desa adalah masa depan pertanian kita. Kami ingin melatih mereka agar siap menjadikan pertanian sebagai jalan hidup yang menjanjikan," tutup Iwan.
PGN Medan gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis Rayakan Ulang Tahun ke-61
Warga Aceh Tamiang Responsif Bongkar Bangunan Sendiri Pascabanjir, Dukung Sterilisasi Area Sumur Pertamina EP
PP AMPG Terus Berikan Bantuan Kepada Korban Bencana Yang Belum Terima Bantuan Dari Pemerintah
SKK Migas Beri Penghargaan Pertamina EP, Pemulihan Produksi Minyak Pasca Banjir Hanya 3 Bulan!
Pertamina Hulu Rokan Zona 1 Jaga Ketahanan Energi Nasional Saat Libur Lebaran Idulfitri