IHSG dan Rupiah Hijau, Ekonom Sumut Ingatkan Ancaman Geopolitik Timur Tengah
Kitakininews.co.id - Kendati pasar saham dan Rupiah mencatatkan penguatan pascarilis pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen (YoY), para pelaku pasar diimbau untuk tetap mewaspadai dinamika geopolitik global, khususnya ketegangan di Timur Tengah.
Baca Juga:
Ekonom Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menyoroti potensi volatilitas pasar yang masih tinggi akibat ultimatum Amerika Serikat terhadap Iran. Menurutnya, kesepakatan damai maupun gencatan senjata tertulis belum menjadi jaminan mutlak bagi stabilitas pasar.
"Pasar saat ini dihantui oleh potensi koreksi besar. Volatilitas akan sangat bergantung pada dinamika geopolitik yang tercermin dari kinerja harga minyak mentah sebagai rujukannya," tegas Gunawan, Rabu (5/8/2026).
Ia menjelaskan bahwa meski terdapat sentimen positif yang menahan IHSG di level 6.351 dan Rupiah di Rp17.925 per Dolar AS, ketidakpastian geopolitik dapat sewaktu-waktu membalikkan arah pergerakan pasar keuangan.
Sementara itu, pergerakan harga emas dunia mencatatkan pelemahan ke level USD 4.154 per ons troy, atau berkisar Rp2,4 juta per gram. Koreksi harga logam mulia ini terjadi di tengah bergulirnya spekulasi dan kabar potensi kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat.
Gunawan Benjamin menjelaskan, bahwa isu peredaan tensi geopolitik di Timur Tengah meredam dorongan pada aset safe haven seperti emas, sehingga memicu tekanan harga dalam jangka pendek.
"Harga emas untuk sementara waktu bergerak melemah seiring munculnya kabar kemungkinan terciptanya kesepakatan damai antara Iran dan AS. Namun, pasar tetap mencermati realisasi kesepakatan tersebut karena dinamika minyak mentah dan geopolitik masih fluktuatif," kata Gunawan.
Kondisi ini berlangsung berbarengan dengan penguatan indikator ekonomi domestik, di mana pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 tercatat menguat 5,29 persen (YoY).
Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur, Pemerintah Tunjuk Destry Damayanti Sebagai Pengganti Sementara
Harga Minyak Mentah Dekati $100 per Barel, Ekonom Sumut Peringatkan Ancaman Bagi Pasar Keuangan
Redam Gejolak Global, Bank Indonesia Tahan BI-Rate 5,75% dan Tebar Insentif Investasi Asing
Ekspor Sawit Sumut Tetap Solid di Tengah Sikap 'Wait and See' Kebijakan DSI
Waspada! Antrean Panjang BBM di SPBU Bisa Bikin Harga Bahan Pangan Naik