Edy: Dalihan Natolu Perekat Persaudaraan Perantau
Kitakini.news
– Filosofi Dalihan Natolu sebagai wawasan sosial kultural masyarakat dan adat
budaya daerah Tapanuli dan Mandailing diyakini mampu memperekat persaudaraan
warga Sumut yang berada di Parserahan (Perantau) dalam menjalin kehidupan dengan
adat dan budaya setempat. Juga dalam menjalani kehidupan rukun, damai dan
harmonis.
Baca Juga:
Hal
itu dikemukakan Edy Rahmayadi Gelar Mangaraja Sojuangon Perkasa Alam Nasution
dalam sambutan dibacakan Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setdaprov Sumut
Muhammad Rahmadani Lubis pada pelantikan Pengurus Forum Masyarakat Dalihan
Natolu (Formadana) Provinsi Aceh yang diketuai Kasibun Daulay dan Milad
ke-8 Naposo Nauli Bulung Tabagsel – Aceh di Aula Balai Kota Banda Aceh, Minggu
(27/5/2023).
Edy
menjelaskan, Dalihan Natolu dari segi bahasa dapat diterjemahkan yaitu tungku
yang berkaki tiga yang sangat membutuhkan keseimbangan yang mutlak. Jika satu
dari ketiga kaki tersebut rusak, maka tungku tidak dapat digunakan.
“Kalau
kaki lima, jika satu kaki rusak masih dapat digunakan dengan sedikit
penyesuaian meletakkan beban, begitu juga dengan tungku berkaki empat. Tetapi
untuk tungku berkaki tiga, itu tidak mungkin terjadi,” ujarnya.
“Inilah
yang menjadi filosofi dari nenek moyang dan leluhur di Tapanuli dan Mandailing
yang digunakan sebagai falsafah hidup dalam tatanan kekerabatan antara sesama
yang bersaudara atau kahanggi, dengan mora maupun boru. Perlu keseimbangan yang
absolut dalam tatanan hidup antara tiga unsure,” bebernya.
“Untuk
menjaga keseimbangan tersebut kita harus menyadari bahwa semua orang akan
pernah menjadi mora, pernah menjadi anak boru dan pernah menjadi kahanggi,” ujarnya.
Menurut
Edy, Dalihan na tolu menjadi kerangka hubungan Tripartit yang meliputi
hubungan-hubungan kerabat hubungan darah dan hubungan perkawinan yang
mempertalikan satu kelompok.
Dalam
adat Tapanuli dan Mandailing, sambung Edy, Dalihan Na Tolu ditentukan dengan
adanya tiga kedudukan fungsional sebagai suatu konstruksi sosial yang terdiri
dari tiga sikap yang menjadi dasar Bersama.
Ketiga
sikap tersebut adalah sikap menghormati/menghargai mora, yaitu sikap yang
ditunjukkan sebagai sikap menghormati dan menghargai keluarga pihak istri atau
marga istri, kelompok marga ibu (istri bapak), kelompok marga istri ompung, dan
beberapa generasi.
Kemudian
sikap membujuk dan mengayomi pihak anak boru, yaitu anak perempuan atau pihak
yang menerima dan menjaga anak perempuan. Selanjutnya sikap berhati-hati dan
saling menjaga dengan kahanggi yaitu kerabat atau teman semarga.
Ketiga
sikap ini adalah cerminan rasa persatuan dan kesatuan yang diwujudkan dalam
suatu sikap menghormati, menghargai, menyayangi, mengayomi dan saling menjaga
hubungan di tengah-tengah masyarakat.
“Untuk
itu kami berharap dengan adanya organisasi forum masyarakat dalihan natolu (Formadana),
dapat menjadi perekat bagi keutuhan masyarakat, Selain itu dapat pula menjadi
lokomotif dalam melestarikan budaya daerah yang santun dan berkearifan,”
ujarnya.
Disampaikan
juga, Naposo Nauli Bulung adalah merupakan pemuda dan pemudi yang merupakan
pewaris adat budaya Tapanuli Bagian Selatan.
Untuk
itu dengan milad ke-8 organisasi Naposo Nauli Bulung Tabagsel - Aceh
diiharapkan semakin mendewasakan generasi muda Tabagsel bagaimana bersikap dan
bersosialisasi dengan masyarakat baik di provinsi Sumatera Utara, di Provinsi
Aceh maupun di Indonesia secara umum.
Redaksi
Merasa Martabat Wartawan Direndahkan, PWI Sumut Laporkan Hotman Paris ke Polda Sumut
Terdengar Ledakan, Rumah Mewah di Grand Polonia Medan Ambruk Saat Renovasi
Gubernur Bobby Nasution Hadiri Nobar Final Piala Dunia, Satlantas Polres Nias Lakukan Rekayasa Kalukintas
Viral, Pria di Medan Bakar Ayah Kandung
Wabub Nisel Dampingi Bobby Nasution dan Dubes Prancis Kunjungi Desa Wisata Bawomataluo