Jumat, 11 September 2026

Bukan Cuma Soal Minyak, Ada Cerita di Balik Kebangkitan PEP Rantau

Siti Amelia - Kamis, 13 Agustus 2026 07:30 WIB
Bukan Cuma Soal Minyak, Ada Cerita di Balik Kebangkitan PEP Rantau
dokumentasi PEP
Razak bersama tim PEP Rantau Field bangkit bersama usai bencana banjir Aceh Tamiang.

Kitakininews.co.id - Plafon di ruangan bercat putih dengan luas sekitar 5x8 meter masih terlihat baru dan mengkilat. Ruangan yang dibangun sebagai ruang VIP Inklusi Caffee, Aceh Tamiang ini menjadi saksi bisu sebuah pertemuan penting, Rabu (12/8/2026) siang.

Baca Juga:

Dari tengah ruang yang masih dalam tahap pemulihan pasca terjangan banjir, Field Manager PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi (PEP) Rantau Field, Tomi Wahyu Alimsyah, melangkah mantap ke depan. Kepada jurnalis yang hadir, pria yang akrab disapa Tomi ini memaparkan kondisi PEP Rantau Field pasca banjir.

Langkah kaki yang mantap menuju ke depan seolah menegaskan komitmen kuat perusahaan terus bangkit untuk Indonesia. Pilihan tempat yang serba sederhana, dengan deretan kursi plastik berwarna coklat sebagai tempat duduk bagi para tamu, tampak mempertegas narasi bangkit bersama masyarakat pascabencana Aceh Tamiang.

Sesampainya di depan audiens, Tomi menatap tamu dengan mata teduh. Tidak melihat proyektor, dengan wajah yang memancarkan ketegaran, dia memulai paparan menceritakan kenangan peristiwa kelam di akhir November 2025 lalu.

Saat banjir melanda Aceh Tamiang, yang memberhentikan seluruh unit operasional PEP Rantau Field yang merupakan lapangan minyak dan gas bumi di bawah pengelolaan Zona 1 Regional 1 Pertamina Hulu Rokan.

Baju seragam lapangan khas Pertamina yang dikenakan Tomi saat pemaparan seakan menggambarkan bagaimana gigihnya perjuangan tim untuk kembali bangkit. Banjir yang menghentikan total seluruh operasional sumur tua milik Pertamina memang cukup parah.

Banjir datang dengan ketinggian mencapai empat meter, tidak hanya membawa air, namun menyisakan endapan lumpur yang tebal.

Kondisi ini membuat seluruh fasilitas produksi, pembangkit listrik, penyediaan air bersih hingga sumur energi yang dikelola dengan hati-hati oleh warrior PEP Rantau Field tak berfungsi. Tak hanya itu, karyawan beserta warga sekitar juga harus merasakan kekhawatiran saat terisolasi selama tiga hari, tanpa makanan dan minuman yang layak.

"Kami terisolasi saat itu, akses keluar tertutup banjir, tidak ada sarana komunikasi dan transportasi yang bisa digunakan," ucap Tomi.

Dia menjelaskan, kawasan komplek PEP Rantau Field memiliki dua jalur utama, yakni melintasi Bukit Suling dan Opak. "Keduanya terputus total. Bukit Suling tertutup longsor, dan Opak tertutup pohon tumbang, dan jembatan penghubungnya nyaris tenggelam, rata dengan air sungai," kenang dia.

Sejak Kamis (27/11/2025) hingga Sabtu (29/11/2026), sambung Tomi, karyawan Pertamina saling merangkul, berbagi suka dan duka dengan warga sekitar di tiga tumpuan utama.

Tiga bangunan tinggi yang ada di kawasan komples sangat berjasa dalam perjuangan mereka bertahan hidup saat diterjang banjir. Masjid At-Taqwa menampung 1.300 warga dan karyawan di atap masjid, Gedung Arsip menjadi tempat bertumpu 350 jiwa, dan Gedung Tempat Uji Kompetensi (TUK) menyelamatkan 400 nyawa lainnya.

Para penyintas bencana banjir ini, harus bertahan hidup selama 3 hari tanpa air bersih, serta makan seadanya. Mereka yang selalu mengutamakan kebersihan terpaksa minum pasokan air dari sistem pemadam kebakaran, yang tak tersapu lumpur akibat banjir.

Syukur bantuan helikopter (chopper) yang diterbangkan Pertamina dari Medan pada Sabtu siang, akhirnya memecah keterisolasian, bagai secercah cahaya dalam kegelapan ketidakpastian.

Baling-baling Chopper yang menggetarkan udara sekitar, terasa seperti angin sepoi yang menyejukkan. Apalagi transportasi udara ini membawa pasokan logistik dan obat-obatan. Chopper ini pun menghilangkan kecemasan dengan mengevakuasi warga yang terluka dan pekerja yang sedang hamil tua.

"Dalam menghadapi musibah banjir ini perusahaan tidak hanya memikirkan pegawai dan mitra kerja di kompleks. Tetapi, memberikan prioritas dan kepedulian terhadap masyarakat. Sembako yang diberikan untuk masyarakat lebih besar porsinya karena kami menyakini masyarakat lebih terdampak. Bahkan, pemukiman warga yang belum terjangkau akses penyaluran bantuan, kami berikan dengan airdrop," tutur Tomi.

Memang dampak dari bencana hebat ini sangat telak. Pembangkit listrik mati total, fasilitas produksi lumpuh, dan angka produksi minyak meluncur bebas hingga menyentuh angka 0 BOPD (Barrel Oil Per Day).

Namun, berbekal semangat dan perencanaan yang baik target satu tahun pemulihan bisa tercapai hanya dalam kurun waktu empat bulan. Pekerja Pertamina berkerja sesuai terukur dan sistematis, sehingga produksi bisa kembali normal. Bahkan, sempat melampaui sebelum terjadi bencana banjir.

Secara bertahap, sumur yang sebelumnya tidak berproduksi akibat terendam banjir, perlahan diperbaiki. Produski pun berangsur-angsur pulih. "Pulih lebih cepat saat menghadapi bencana banjir menjadi bukti nyata ketangguhan insan Pertamina," katanya.

Dengan timeline yang ketat serta penerapan berbagai strategi teknis terstruktur, proses pemulihan dipacu melintasi batas normal. Hanya dalam rentang waktu 5 bulan, PEP Rantau Field mampu berproduksi, bahkan sampai melebihi pencapaian sebelum bencana menerjang.

Tomi menjelaskan pemulihan dilakukan secara runtut melalui tiga fase terencana. Yang utama fokus pada keselamatan jiwa, evakuasi, dan reaktivasi fasilitas dasar. Kemudian memperbaiki fisik fasilitas produksi dan infrastruktur pendukung yang tertutup lumpur.

"Setelahnya dilakukan penguatan sistem operasional jangka panjang agar fasilitas lebih tahan terhadap potensi risiko masa depan. Dan hasilnya Alhamdulillah kita kembali beroperasi," kata dia.

Dalam waktu 5 bulan, seluruh sumur yang sebelumnya mati akibat terendam banjir berhasil dihidupkan kembali secara bertahap. Produksi energi pun naik perlahan dari 0 barel ke 100 barel, 500 barel, 1.000 barel, hingga berhasil menyentuh puncaknya di kisaran 2.000 barel per hari. Melebih pencapaian sebelumnya yang hanya 1.700 barel.

Bangkit dari banjir hanyalah satu babak dari perjuangan PEP Rantau Field. Sebagai lapangan migas tua (mature field) yang mengelola sekitar 1.000 sumur dengan potensi cadangan mencapai 13.738 MMbo, tantangan teknis pascabanjir tetap mengintai, terutama masalah kepasiran yang memicu potensi hasil produk terbuang.

Untuk menjawab tantangan serta mendukung target swasembada energi nasional, PEP Rantau meluncurkan inovasi unggulan seperti We Are Finest dan USAT (Inovasi CIP PEP Rantau). Inovasi ini dirancang khusus untuk mengatasi tingkat kepasiran yang tinggi, menekan frekuensi pekerjaan rig, serta memperpanjang usia produktif sumur-sumur minyak tua.

Langkah ini sejalan dengan semangat pengelolaan lapangan migas di kawasan Sumatera bagian Utara, seperti halnya sejarah panjang PEP Pangkalan Susu Field di Telaga Said, Langkat, yang menjadi tonggak lahirnya industri minyak bumi Indonesia sejak 1885.

Meski mampu bertahan dan maju pesat, PEP Rantau Field tak mau menyerah. Memasuki paruh kedua tahun 2026, PEP Rantau Field terus melangkah optimistis. Rencana pengeboran sumur-sumur baru dan program well integrity terus dipacu.

"Keberhasilan menaklukkan bencana banjir dalam hitungan bulan menjadi bukti nyata bahwa kombinasi antara keteguhan insan Pertamina dan inovasi teknologi mampu mengalirkan kembali energi untuk negeri," tukas Tomi.

Bangkit Bersama Masyarakat

Sejalan dengan kebangkitan bisnis, PEP Rantau Field tidak meninggalkan tanggungjawab sosialnya ke masyarakat. Lewat komitmen keberlanjutan yang diusung PEP Rantau Field melalui program Community Improvement and Development (CID) atau Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM), Aceh Tamiang Bangkit bisa berjalan lebih cepat.

Ditengah rekonstruksi pasca banjir, PEP bergerak seirama dengan pemerintah. Seperti diungkap Yosia Ciccio dari fungsi CID Pertamina EP Rantau. Dia mengungkapkan intervensi pemberdayaan yang dilakukan melalui program PPM mencakup tiga pilar utama, yaitu pilar sosial, ekonomi, dan lingkungan.

"Tahapan program dimulai dari pemetaan potensi desa, pengkategorian wilayah, hingga eksekusi dan koordinasi berkelanjutan bersama masyarakat," terangnya.

Pada pilar sosial, jelas dia, Pertamina EP Rantau memfokuskan aksinya pada pemerataan akses pendidikan dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Salah satu program unggulannya adalah pembangunan pendidikan inklusif yang berlokasi di SLB Negeri Pembina Aceh Tamiang, Desa Latu.

Melalui implementasi Kelas Berdaya yang menghadirkan pembelajaran tematik mencakup kebencanaan, lingkungan, budaya, dan pengetahuan umum, program ini telah memberikan penguatan kapasitas bagi 150 siswa disabilitas serta 70 tenaga pendidik.

Sekolah ini juga menerapkan konsep Sekolah Energi Berdikari dengan memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 3,3 kWp yang menghasilkan 671,6 kWh energi bersih per tahun, sekaligus menghemat biaya operasional listrik hingga Rp500.000 per bulan.

"Pasca bencana banjir, Kelas Berdaya kembali aktif sebagai ruang pembelajaran tematik untuk membangkitkan kembali semangat belajar 120 siswa difabel beserta orang tua pendamping," ungkapnya.

Sementara di sektor kesehatan dasar, intervensi difokuskan pada penguatan kualitas hidup warga di Desa Kebun Rantau, Desa Pembunuhan Tau, dan Desa Mayotan. Melalui edukasi gizi dan penguatan kapasitas 15 kader kesehatan Posyandu, program ini menyasar penanganan stunting serta pelayanan kesehatan lintas siklus hidup.

"Upaya berkelanjutan ini terbukti berhasil menurunkan angka stunting di tiga desa dampingan dari 32,9% menjadi 22,7%," kata Yosia.

Dituturkan Yosia, pilar ekonomi menjadi salah satu pilar dengan portofolio program yang sangat berkembang pesat. Mengusung prinsip keberagaman dan inklusivitas, PEP Rantau Field turut membantu pengembangan unit usaha yang dikelola langsung oleh teman-teman disabilitas. Inklusi Coffee dan Bengkel Difabel di Desa Tanjung Karang, kini juga kembali beroperasi melayani pelanggan.

Coffee shop inklusif yang diinisiasi sejak tahun 2022 ini, memberdayakan 5 pemuda, 3 di antaranya merupakan penyandang disabilitas. Pada tahun 2025, Inklusi Coffee berhasil mencatatkan omzet hingga Rp135.000.000 dengan rata-rata pendapatan anggota mencapai Rp1.500.000 per bulan.

Sementara Bengkel dan Doorsmeer Difabel menjadi wadah lapangan kerja profesional bagi 15 penyandang disabilitas tuna daksa. "Pembekalan keterampilan mekanik otomotif roda dua membuat mereka mampu mandiri secara ekonomi dan pascabanjir telah kembali aktif melayani pelanggan," terang pria berambut keriting ini.

Field Manager PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi (PEP) Rantau Field, Tomi Wahyu Alimsyah. (dokumentasi)


Pasca banjir, tuturnya, area galeri UMKM yang berada di kawasan Inklusi Caffe sempat difungsikan sebagai operasional kafe. Namun seiring selesainya tahap pemulihan, fasilitas ini disiapkan kembali menjadi pusat integrasi dan galeri produk UMKM se-Kabupaten Aceh Tamiang.

"Tak hanya di sektor jasa, pilar ekonomi kita juga menyentuh sektor pertanian modern dan ketahanan pangan, diantaranya Smart Agriculture Melonesia yang berada di Desa Kebun Tanjung Seumantoh," tuturnya.

Menggandeng 20 petani muda, program budidaya melon berbasis smart agriculture ini mampu menerapkan teknik irigasi tetes, pengolahan limbah organik menjadi kompos, serta efisiensi media tanam hingga 22 kali masa tanam.

Pertanian Hortikultura juga tak luput dari perhatian PEP Pertamina. Melalui pemulihan lahan seluas 1,8 hektar, termasuk restorasi pascabanjir seluas 22 rante dengan 6.000 bibit hortikultura, program ini memperkuat kapasitas 10 petani muda dalam menciptakan kemandirian pangan daerah.

Salah seorang petani hortikultura penyintas yang didampingi PEP Rantau Field adalah Razak. Ketika banjir bandang menyisakan endapan lumpur tebal dan keputusasaan bagi kebanyakan orang, Razak justru melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Mantan wartawan yang sejak lima tahun lalu banting setir menjadi petani di Aceh Tamiang ini paham betul, di balik musibah selalu ada potensi yang tersembunyi. Berbekal literasi dan pengalamannya memahami indikator tanah seperti tingkat keasaman (pH) serta teknik tanam efektif, Razak nekat memanfaatkan sisa lumpur banjir sebagai media tanam utama.

Memang langkah ekstrem ini sempat memicu keraguan dari sesama petani setempat. Tapi Razak tak mau diam, tak mau hanya berpangku tangan menerima bantuan selama bencana.

"Saya yakin satu hal, ketika Allah kasih cobaan, pasti ada hikmah di baliknya. Banyak kawan-kawan lain ragu mengolah tanah bekas banjir. Tapi kami pastikan, kelompok tani kamilah yang pertama berani mengolahnya. Itu bahkan diakui oleh Dinas Pertanian, walau awalnya ada sedikit ketakutan," ujar Razak dengan nada mantap saat disapa wartawan.

Keberanian Razak dan kelompok taninya tak lepas dari penguatan mental dan dukungan pendampingan dari PEP Rantau Field. Lewat sinergi ini, mereka perlahan bangkit dan menepis keraguan pasar.

Bahkan, jelas pria berperawakan kurus ini, salah satu anggota kelompok tani, Pak Hamim menjadi sosok yang tak henti memberi semangat dan doa agar musibah ini berbalik menjadi rezeki. Riset kecil-kecilan dan keberanian menguji tanah lumpur itu akhirnya membuahkan hasil manis. Razak mencoba menanam beragam varietas untuk membuktikan kesuburan tanah pascabanjir.

Diantaranya, tomat dan cabai merah yang sudah melewati masa panen dengan hasil memuaskan. Kemudian terong yang tumbuh subur dan produktif di lumpur tersebut. Dan yang terbaru, cabai caplak menjadi komoditas unggulan baru yang sangat diminati pasar lokal.

"Alhamdulillah, lumpur yang tadinya dianggap bencana justru jadi berkah. Tomat dan cabai panjang (cabai merah) sudah panen, sekarang giliran cabai caplak. Pedasnya luar biasa! Ibu-ibu atau pembeli yang mau cabai caplak berkualitas, tinggal datang ke sini," ucap Razak bercanda sembari tersenyum puas.

Keberhasilan panen ini menurut Razak kian lengkap, karena bertepatan dengan momentum harga cabai yang sedang bagus di pasaran. Produktivitas lahan lumpur buatan Razak dan kelompoknya berhasil membuktikan bahwa tanah pascabanjir justru kaya akan nutrisi organik jika diolah dengan presisi.

Bagi Razak, perjalanan dari seorang pemburu berita menjadi petani sukses di tengah terpaan bencana memberikan pelajaran hidup yang mendalam. Pengalaman jurnalistiknya melatih pemikiran analitisnya, sementara aktivitas bertani menggembleng kesabarannya.

"Cobaan yang Allah berikan tidak akan pernah melampaui batas kemampuan kita. Tinggal bagaimana niat dan ikhtiar kita untuk bangkit, pulih, berdikari, serta terus berdoa. Yakinlah, di balik musibah selalu ada berkah yang disiapkan," pungkas Razak.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Tanggap Banjir Langkat, Pertamina EP Pangkalan Susu Pasok Bantuan Sembako ke Desa Terisolasi

Tanggap Banjir Langkat, Pertamina EP Pangkalan Susu Pasok Bantuan Sembako ke Desa Terisolasi

Rudi Alfahri Minta Pemerintah Lakukan Langkah Konkret Atasu Banjir Binjai-Langkat

Rudi Alfahri Minta Pemerintah Lakukan Langkah Konkret Atasu Banjir Binjai-Langkat

Gubsu Pastikan Penanganan Banjir Jalan Letda Sujono Medan Dimulai 2027

Gubsu Pastikan Penanganan Banjir Jalan Letda Sujono Medan Dimulai 2027

Pertamina EP Rantau Sosialisasi Keamanan Pipa Migas, Warga Diimbau Lapor Jika Ada Penyadapan Ilegal

Pertamina EP Rantau Sosialisasi Keamanan Pipa Migas, Warga Diimbau Lapor Jika Ada Penyadapan Ilegal

Tangan-Tangan Istimewa di Kelas Berdaya PEP Rantau Field Aceh Tamiang

Tangan-Tangan Istimewa di Kelas Berdaya PEP Rantau Field Aceh Tamiang

Ratusan Rumah di Kecamatan Medan Maimun Terendam Banjir

Ratusan Rumah di Kecamatan Medan Maimun Terendam Banjir

Komentar
Berita Terbaru