AESI Ajak Jurnalis Kawal Target PLTS 100 GWp, Media Berperan Penting dalam Transisi Energi
Kitakininews.co.id - Ambisi Indonesia membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) dalam tiga tahun ke depan membutuhkan dukungan banyak pihak, bukan hanya pemerintah dan pelaku industri. Media massa juga memiliki peran penting dalam mengawal realisasi program sekaligus memastikan masyarakat memahami manfaat dan tantangan pengembangan energi surya.
Baca Juga:
Hal tersebut menjadi perhatian Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) melalui Media Training bertema "Penguatan Kapasitas Media dalam Diskursus Energi Surya Nasional" di Jakarta, Jumat (6/11/2026).
Kegiatan hybrid tersebut mempertemukan jurnalis media nasional dan daerah dengan narasumber dari PT PLN (Persero), industri energi surya, serta lembaga kajian kebijakan iklim. Pembahasan mencakup aspek teknis PLTS, perkembangan industri, regulasi, hingga pembiayaan proyek.
Ketua Umum AESI, Mada Ayu Habsari, mengatakan media memiliki posisi strategis dalam menjembatani informasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat.
"Bagi AESI, 100 GWp adalah ambisi sekaligus mandat kerja. Agar ambisi ini menjadi aksi, pemerintah, pelaku industri, dan publik perlu bergerak bersama untuk memahami dan mengawal setiap prosesnya. Di sinilah rekan-rekan media memegang peran kunci," ujar Mada.
Ia berharap pemberitaan energi surya tidak hanya berfokus pada angka target pembangunan, tetapi juga mengangkat manfaat langsung bagi masyarakat.
"Kami ingin pemberitaan energi surya menghadirkan cerita yang lebih utuh dari angka target, yaitu manfaat nyata yang dirasakan masyarakat, mulai dari listrik yang lebih andal, terbukanya lapangan kerja hijau, hingga tumbuhnya ekonomi lokal," katanya.
Program PLTS 100 GWp diluncurkan Presiden Prabowo Subianto di Gilimanuk, Bali, pada 25 Agustus 2026. Namun, kapasitas terpasang PLTS nasional hingga pertengahan 2026 baru sekitar 1,5 GW. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya tantangan yang harus dihadapi untuk mengejar target.
Manajer Pengendalian Aneka Energi Baru dan Terbarukan PT PLN (Persero), Joko Purnomo, menjelaskan PLTS menjadi salah satu tumpuan penambahan pembangkit energi terbarukan dalam RUPTL 2025–2034.
Ia memaparkan berbagai jenis instalasi PLTS, mulai dari atap, ground-mounted, hingga terapung, termasuk skema Independent Power Producer (IPP) yang memungkinkan pengembang swasta membangun pembangkit dan menjual listriknya kepada PLN.
"Keberhasilan program kelistrikan sangat memerlukan dukungan publik. Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap dapat membangun pemahaman dan sinergi bersama dalam rangka mendukung pengembangan PLTS di Indonesia agar dapat terus tumbuh guna meningkatkan ketahanan energi listrik bagi masyarakat," ujar Joko.
Dari sisi industri, AVP of Public Policy & Government Relations Suryanesia sekaligus pengurus AESI, Zidny Ilman, menegaskan keberhasilan target 100 GWp sangat bergantung pada kesiapan ekosistem industri surya.
"Kami percaya kunci dari keberhasilan Program 100 GWp adalah memastikan terciptanya ekosistem industri surya yang sehat," katanya.
Menurut Zidny, kepastian regulasi harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari PLN, investor, lender, developer, kontraktor EPC, hingga manufaktur. Keselarasan tersebut menjadi fondasi penting agar proyek dapat berjalan dan menarik investasi.
Sementara itu, Director Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia, Tiza Mafira, mengungkapkan peluang pembiayaan hijau global dapat dimanfaatkan untuk mempercepat pengembangan PLTS. Namun, investor membutuhkan kepastian pasar dan kelayakan proyek atau bankability.
"Investor membutuhkan kepastian pasar, dan salah satu sumber kepastian itu adalah terlihatnya opsi proyek PLTS beragam serta antusiasme masyarakat yang mulai terlihat di berbagai media," ujar Tiza.
Ia menambahkan pemberitaan mengenai penghematan biaya listrik dan kemudahan pemasangan PLTS dapat membantu mengurangi keraguan pasar sekaligus menarik investasi hijau ke Indonesia.
Untuk memperluas pemberitaan energi surya, AESI juga mendorong kolaborasi dengan media daerah melalui kehadirannya di Balikpapan, Bali, Medan, dan Surabaya.
AESI turut membuka Journalist Writing Competition dengan total hadiah Rp17.750.000. Peserta dapat memilih tiga fokus penulisan, yakni eksekusi teknis dan integrasi Battery Energy Storage System (BESS), kebijakan dan regulasi, serta pembiayaan dan kelayakan proyek PLTS.
Artikel mendalam untuk media cetak maupun daring dapat dikirimkan pada 6 November hingga 6 Desember 2026 melalui [comms@aesi.or.id](mailto:comms@aesi.or.id) dan [energi.eits@gmail.com](mailto:energi.eits@gmail.com).
Melalui kolaborasi tersebut, AESI berharap media tidak hanya menyampaikan perkembangan target energi surya, tetapi juga mengawal implementasinya, mengungkap tantangan di lapangan, serta memastikan manfaat transisi energi dapat dirasakan masyarakat.
Diduga, LIstyo Sigit Prabowo CS Sadap Presiden Sejak 2025–2026, Polri Sita 11 Ponsel dan Empat Flashdisk
Ketum PP AMPG Terima Anugerah Tokoh Kaderisasi Penggerak Pemuda Nusantara
Subandi: Dua Tahun Prabowo, Arah Indonesia Emas 2045 Semakin Terang
Prabowo Subianto Satu-satunya Kepala Negara Yang Berani Gelorakan Free Free Palestine Dihadapan Publik
Said Aldi: Pemuda Harus Jadi Garda Terdepan Mendukung Pemerintahan Prabowo Subianto