Selasa, 18 Agustus 2026

Konflik Iran-AS Memanas Lagi, Pasar Keuangan RI Dibayangi Risiko Inflasi dan Pelemahan Rupiah

Siti Amelia - Selasa, 18 Agustus 2026 12:58 WIB
Konflik Iran-AS Memanas Lagi, Pasar Keuangan RI Dibayangi Risiko Inflasi dan Pelemahan Rupiah
gemini ai
ilustrasi

Kitakininews.co.id - Pasar keuangan global kembali diselimuti ketidakpastian setelah masa gencatan senjata sementara antara Iran dan Amerika Serikat (AS) resmi berakhir pada 17 Agustus lalu tanpa adanya kesepakatan perpanjangan. Berakhirnya tensi damai ini memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga mendekati level $100 per barel.

Baca Juga:

Pengamat Ekonomi Sumatra Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, menyoroti dampak eskalasi geopolitik Timur Tengah tersebut terhadap stabilitas pasar keuangan domestik, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar Rupiah, serta komoditas emas.

"Di bursa komoditas, harga minyak mentah jenis Brent bergerak naik ke kisaran $91 per barel akibat kekhawatiran pasar atas risiko konflik meluas. Sebagian besar bursa saham di Asia pun bergerak melemah pada sesi perdagangan pagi," ucapnya, Selasa (18/8/2026).

Meski bursa regional cenderung tertekan, IHSG sempat menguat ke level 6.488 pada sesi pembukaan. Penguatan ini didorong oleh respons positif atas kenaikan bursa Asia pada Senin kemarin, saat pasar domestik sedang libur.

Namun, Gunawan memperingatkan bahwa sentimen positif tersebut berpotensi tergerus oleh panasnya tensi geopolitik.

"Sekalipun IHSG mengalami penguatan signifikan di sesi pagi, kinerjanya tetap rawan terkoreksi hingga penutupan perdagangan akibat ancaman eskalasi di Timur Tengah," ujar Gunawan.

Tekanan geopolitik juga langsung berimbas pada nilai tukar mata uang garuda. Pada sesi pagi, Rupiah melemah ke kisaran Rp17.840 per dolar AS. Menurut Gunawan, lonjakan harga minyak dunia berpotensi menahan Rupiah di zona merah, terutama jika tidak diimbangi dengan langkah intervensi dari Bank Indonesia.

Selain menekan Rupiah, lonjakan harga minyak mentah memicu kekhawatiran baru terkait kenaikan inflasi global. Kondisi ini turut menahan laju harga emas dunia yang sempat menguat di level $4.428 per ons troy pada Senin kemarin, namun turun ke kisaran $4.404 per ons troy (sekitar Rp2,53 juta per gram) pada perdagangan pagi ini.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
Berita Terkait
IHSG dan Rupiah Bergerak Sideways, Harga Emas Tertekan Koreksi Teknikal

IHSG dan Rupiah Bergerak Sideways, Harga Emas Tertekan Koreksi Teknikal

IHSG dan Rupiah Hijau, Ekonom Sumut Ingatkan Ancaman Geopolitik Timur Tengah

IHSG dan Rupiah Hijau, Ekonom Sumut Ingatkan Ancaman Geopolitik Timur Tengah

Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur, Pemerintah Tunjuk Destry Damayanti Sebagai Pengganti Sementara

Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur, Pemerintah Tunjuk Destry Damayanti Sebagai Pengganti Sementara

Harga Minyak Mentah Dekati $100 per Barel, Ekonom Sumut Peringatkan Ancaman Bagi Pasar Keuangan

Harga Minyak Mentah Dekati $100 per Barel, Ekonom Sumut Peringatkan Ancaman Bagi Pasar Keuangan

Redam Gejolak Global, Bank Indonesia Tahan BI-Rate 5,75% dan Tebar Insentif Investasi Asing

Redam Gejolak Global, Bank Indonesia Tahan BI-Rate 5,75% dan Tebar Insentif Investasi Asing

Ekspor Sawit Sumut Tetap Solid di Tengah Sikap 'Wait and See' Kebijakan DSI

Ekspor Sawit Sumut Tetap Solid di Tengah Sikap 'Wait and See' Kebijakan DSI

Komentar
Berita Terbaru