Zamatra AI Fest, Hidupkan Sejarah Sumatra Kuno dengan AI, Bayu Ungkap Inovasi Teater Visual
Kitakini.news - Pulau Sumatra, yang dikenal dengan nama-nama kuno seperti Zamatra, Taprobana, Ferca, dan Suwarnabumi, kini bangkit melalui sentuhan kecerdasan buatan (AI). Dalam acara ZamatraAI Fest mendatang, visual AI akan menjadi latar belakang teater yang memukau, menghidupkan kembali kemegahan peradaban ribuan tahun lalu. Narasumber utama, Bayu Rahmad Putra, animator berpengalaman yang akrab dengan AI seperti Midjourney dan Cloud, berbagi visinya dalam konferensi pers, Selasa (6/5/2026).
Baca Juga:
"Zamatra adalah nama lain Sumatra, bahkan Mesir kuno sudah mengenalnya melalui kapur barus dari Barus. Al-Qur'an pun menyebut 'kapura' di Surah Al-Insan ayat 5. Keagungan tanah ini tak boleh sekadar cerita," ujar Bayu, saat menyapa jurnalis.
Dia mengisahkan kunjungan ke Barus tiga bulan lalu bersama Pemilik Teater Rumah Mata, Agus dan tim, di mana mereka menemukan situs sejarah yang terabaikan. Dari sana, Bayu menciptakan video visual AI Barus 2000 tahun silam, saat pelabuhan ramai dikunjungi pelaut Arab, raja-raja Arab, dan pedagang Tiongkok. Konten ini viral di Facebook dan TikTok, dan akan dipamerkan di ZamatraAI Fest yang akan digelar Jumat (22/5/2026) dan Sabtu (23/5/2026) di Ruang Kreatif 001 Teater Rumah Mata.
ZamatraAI Fest bukan sekadar pameran, melainkan restorasi budaya Sumatera Utara. "Ini undangan terbuka bagi Gen Z untuk memahami warisan peradaban dari pantai hingga pegunungan Angkola," tegas Bayu. Menggunakan AI sebagai metode dan media, acara ini menampilkan video serta gambar sejarah yang dibuat ulang, mencakup 10 sudut Sumatera Utara. Kegiatan unggulan meliputi Pameran Hunuhilir Sumatera Utara dan Pameran Teknologi AI dengan setting futuristik; FGD; AI Seminar; Dialog Lintas Gagasan; dan AI Stage yang memadukan teater dengan visual AI, inovasi pertama kali.
"Melaui Workshop AI interaktif yang akan dihadirkan, peserta akan kita pandu membuat storyboard, generate video legenda seperti Putri Hijau, Adanotoba, Simardan, hingga Guru Patimpus Semiring Pelawi yang sedang diproduksi menjadi film pendek," jelas dia.
Bayu, mantan pebisnis AI yang pernah jual 600.000 gambar Midjourney per bulan, berbagi perjalanan dari animator 3D konvensional, yang butuh bulan dan spek PC tinggi ke era AI yang rampung dalam 5 menit. "Dulu Midjourney gratis, tapi setelah gambar Donald Trump ditangkap polisi viral, jadi berbayar. Kini, AI seperti Cloud bisa analisis Instagram kita, temukan kelemahan konten," ceritanya. Ia juga sebut legenda Putri Hijau yang dibuatnya beberapa bulan lalu, siap dipraktikkan peserta workshop.
"AI bukan musuh, tapi pemandu yang paham kita lebih baik dari diri sendiri. Dari konferensi Dartmouth 1956 hingga GPT-Image 2 sekarang, AI ubah gaya hidup seperti kompor minyak ke gas. Jangan tertinggal, prompting yang tepat adalah kuncinya!" pesan Bayu, yang sering mengajar di kampus dan sekolah. Respons mahasiswa? Dari skeptis jadi kagum: "Wow, keren!"
Acara ini lahir dari kolaborasi Bayu dan Agus, mengajak generasi muda jaga identitas nasional. Video Guru Patimpus tayang hari kedua. Ikuti update di media sosial ZamatraAI Fest.
Rudi Alfahri Rangkuti Imbau Warga Tak Panic Buying BBM
PSMS Menang 3-0 pada Uji Coba Jelang Piala Presiden, Eko Purdjianto: Game Model Mulai Terlihat
DPR: Krisis Anggaran PPPK Jangan Dibayar dengan Pemotongan Pendapatan ASN
Antrian Kendaraan di SPBU Seperti Ular, Rudi Alfahri: Pertamina Harus Jujur Ada Apa
Youri Tielemans Merapat ke Manchester United, Transfer Segera Rampung